kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Syngenta Indonesia Selenggarakan Festival Padi Petani MAJU 2026


Jumat, 02 Oktober 2026 / 17:40 WIB
Syngenta Indonesia Selenggarakan Festival Padi Petani MAJU 2026
ILUSTRASI. Kontan - Syngenta Kilas Online (Dok. Nur Cholis/Syngenta)


Reporter: Nur Cholis | Editor: Ridwal Prima Gozal

KONTAN.CO.ID - Dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani, Syngenta Indonesia memperkuat kolaborasi lintas sektor yang dipadukan dengan inovasi riset dan teknologi mutakhir. Langkah strategis ini tercermin dalam gelaran Festival Padi Petani MAJU 2026 dari tanggal 21-24 September 2026.

Festival tersebut menjadi platform dialog lintas sektor dan ajang pengenalan inovasi Syngenta Indonesia untuk memperkuat kolaborasi guna menghadirkan solusi yang relevan bagi petani sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan nasional. Adapun Syngenta Indonesia melihat pentingnya sinergi ini berlandaskan pada empat pilar strategis "MAJU" yakni Maximize (profitabilitas maksimal), Accelerate (akselerasi inovasi), Joint Effort (upaya bersama dalam keberlanjutan), dan United (satu tim).

Dalam subagenda berjudul Indonesia Petani MAJU Summit, Syngenta Indonesia menyelenggarakan dialog lintas sektor dan stakeholder terkait bertema “Sinergi Kebijakan, Riset, dan Inovasi Menuju Kedaulatan Pangan” pada Selasa, 22 September 2026 di Jakarta.

Turut hadir dalam agenda tersebut Duta Besar Swiss untuk Indonesia Konstantin Obolensky, anggota Komisi IV DPR RI Dr. Ir. Hj. Endang Setyawati Thohari, DESS, M. Sc., Deputi Bappenas Teguh Sambodo, Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional Puji Lestari S.P., M.Si., Ph.D, Principle Scientist, Head - Rice Genetic Design & Validation Unit | International Rice Research Institute (IRRI) Prof. Dr. Inez Slamet-Loedin, serta perwakilan petani H. Sardi. Mereka membahas dan merangkum solusi keberlanjutan pertanian dalam berbagai perspektif.

Dalam paparannya, Duta Besar Swiss untuk Indonesia Konstantin Obolensky menekankan pentingnya dukungan terhadap berbagai inisiatif yang dapat membantu industri lokal mengembangkan inovasi sekaligus mendorong penerapan praktik-praktik keberlanjutan. Perspektif tersebut memperkuat pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menciptakan ekosistem yang memungkinkan inovasi berkembang dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang berkelanjutan.

Bagi sektor pertanian, inovasi tidak hanya berkaitan dengan teknologi baru, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan praktik pertanian.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI Dr. Ir. Hj. Endang Setyawati Thohari, DESS, M.Sc. menyoroti peran parlemen dalam memastikan kebijakan pangan dan pertanian berjalan secara efektif melalui fungsi legislasi, penganggaran, pengawasan, serta monitoring.

Menurutnya, penelitian dan inovasi perlu menjadi fondasi utama dalam penyusunan dan implementasi kebijakan pertanian. Hal ini menegaskan pentingnya membangun jembatan antara penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan nyata sektor pertanian, sehingga kebijakan dan inovasi dapat memberikan dampak yang lebih terukur bagi petani.

Kontan - Syngenta Kilas Online

Riset Pertanian untuk Manfaat Luas

Pada hari kedua atau 23 September 2026, Syngenta Indonesia menggelar Rice Innovation Day di Crop Protection Development (CPD) dan Research and Development (R&D) Cikampek yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Di lokasi ini, Syngenta Indonesia berhasil menciptakan banyak inovasi berdasarkan riset ilmiah khusus petani lokal, nasional, dan internasional untuk memperkuat ketahanan pangan.

Lebih lanjut, Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto menjelaskan, fasilitas Crop Protection Development (CPD) dan R&D Cikampek bukan sekadar laboratorium untuk riset, melainkan fasilitas krusial yang berfungsi menjembatani teknologi dengan kebutuhan petani di lapangan. Syngenta juga berkomitmen memanfaatkan CPD sebagai wadah diskusi bersama para petani guna menghadirkan solusi yang inovatif.

"Fasilitas CPD Cikampek ini adalah wujud nyata komitmen jangka panjang Syngenta. Bagi kami, ini adalah jembatan utama menuju para petani. Di tempat inilah inovasi dan teknologi diuji serta dibuktikan keandalannya sebelum sampai ke tangan pahlawan pangan kita. Di sisi lain, ini sekaligus menjadi wadah bagi kami untuk mendengar secara langsung berbagai tantangan keluhan dan kebutuhan mereka di lapangan," ujar Eryanto pada Rabu 23 September 2026 di Research & Development (R&D) Cikampek.

Regenerasi petani secara berkelanjutan pun sangat diperlukan. Oleh karenanya, Syngenta Indonesia turut merangkul siswa-siswa sekolah yang berfokus pada pendidikan pertanian. Dengan kesinambungan sektor pertanian, Eryanto mengungkapkan masa depan sektor pertanian harus disambut dengan persiapan matang, kemauan berinovasi, dan kolaborasi sinergis antar pemangku kepentingan. Terlebih, dalam kondisi perubahan iklim yang dinamis, inovasi sektor pertanian sangat diperlukan untuk menjaga petani Indonesia tetap produktif.

“Kita mau mendukung dan meningkatkan sejahteraan. Ini tujuan yang tidak bisa pisahkan. Semua usaha kita, semua upaya kita, kita mencari meningkatkan kemampuan yang terus berhubungan langsung untuk meningkatkan produktivitas,” ungkap Eryanto.

Sementara itu, CPD Head Syngenta Indonesia Nanin Noorhajati menjelaskan, secara rinci fasilitas CPD memiliki luas 20 hektare yang terdiri dari 14,5 hektare area konvensional basah dan kering serta ditambah 5 hektare area khusus untuk pengujian aplikasi drone, telah berevolusi pesat menjadi Center of Excellence untuk pengembangan perlindungan tanaman kawasan AMEA (Asia, Middle East, dan Afrika).

Area R&D Cikampek juga dilengkapi lahan pengujian komprehensif mulai dari padi, jagung, sayuran, sawit, hingga pisang. Mengikuti pesatnya digitalisasi pertanian, Syngenta Indonesia turut mengoperasikan Laboratorium Public Health guna menanggulangi penyakit yang ditularkan serangga pada manusia.

Nanin menjelaskan Syngenta Indonesia meriset secara ketat sebuah produk sebelum digunakan oleh petani. Sebagai contoh, dari sekitar 100 ribu kandidat bahan aktif, proses screening yang memakan waktu 6 hingga 10 tahun biasanya hanya meloloskan 1 atau 2 produk ke pasar.

"Proses pengembangan suatu produk dari tahap awal penemuan hingga akhirnya diluncurkan ke pasar itu luar biasa panjang, memakan waktu sekitar 6 hingga 10 tahun. Syngenta menerapkan screening yang tanpa kompromi dan ketat," tegas Nanin.

Salah satu inovasi unggulannya adalah fungisida multifungsi yang tak hanya membasmi penyakit, tetapi membuat tanaman tetap hijau dan sehat atau memiliki efek anti-aging hingga masa panen. Ke depannya, Nanin menjelaskan fasilitas CPD dan R&D Cikampek akan terus menjadi pusat edukasi dan kolaborasi teknologi demi mewujudkan pertanian Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan.

Inovasi Syngenta Indonesia pun mendapat apresiasi dari pemerintah. Deputi Direktur Akses Sumber Daya Industri Kemenperin Seno Aribowo menjelaskan, langkah inovasi yang Syngenta terapkan merupakan salah satu strategi nyata dalam ketahanan pangan nasional. Inovasi berbasis teknologi menjadi pilar penting dalam mengorganisasikan sistem pertanian nasional.

Inovasi tersebut berdampak signifikan bagi efisiensi produksi guna menjadi pemegang rantai pasok global. “Secara khusus, kami mengapresiasi kontribusi nyata PT Singgirta Indonesia yang secara konsisten menghadirkan solusi teknologi tepat guna bagi para petani padi lokal kita. Melalui pengembangan inovasi benih unggul, teknologi perlindungan tanaman berbasis sains modern, serta edukasi dan pendampingan lapangan yang intensif,” jelas Seno.

Kontan - Syngenta Kilas Online

Inovasi drone dan edukasi petani

Dalam Rice Innovation Day, Syngenta Indonesia menampilkan banyak inovasi teknologi kepada para petani. Salah satu inovasi paling menarik adalah pemanfaatan drone untuk penyiraman tanaman. Teknologi tersebut memiliki keunggulan berupa waktu penyiraman yang singkat dan minim penggunaan air. Untuk pemanfaatan drone yang lebih masif, Syngenta Indonesia telah membangun fasilitas Drone Learning Center sejak Agustus tahun 2025 lalu.

Application Technology Team Leader Syngenta Indonesia Ali Asad menjelaskan, adopsi teknologi ini menawarkan keunggulan berupa pengoperasian yang 30 kali lebih cepat dari metode penyemprotan manual, memangkas biaya operasional hingga 50%, serta mampu menghemat air hingga 90% per hektarenya dengan catatan tingkat efikasi 100% setara atau bahkan lebih baik dari cara tradisional.

Dalam pengembangan inovasi ini, Syngenta berpijak pada empat pilar utama yang mencakup penyusunan SOP standar nasional bersama CropLife & BRMP Mektan, meregistrasi produk perlindungan tanaman untuk aplikasi drone, uji validasi efikasi lapangan, hingga edukasi dan pendampingan petani untuk menjadi drone provider.

“Jadi menggunakan drone ini lebih pekat. Terkadang beberapa produk itu tidak cocok digunakan menggunakan drone karena terlalu pekat. Jadi sebelum produk ini dipasarkan atau diregistrasikan menggunakan drone, Syngenta melakukan penelitian dulu secara internal. Syngenta Indonesia melihat produknya secara agronomis,” tambah Ali.

Proses penyiraman manual juga tidak lepas dari perhatian Syngenta. Application Technology Specialist Syngenta Indonesia Reinaldy menjelaskan, pemanfaatan nozzle (spuyer) harus diperhatikan oleh petani karena bepengaruh untuk kualitas tanaman dan padi. Meski terlihat sepele, Reinaldy mengungkapkan nozzle punya peran penting dalam proses pertanian yang berfungsi sebagai pemecah bentuk air sesuai dengan kemiringan dan jumlah air yang keluar (flow rate). Ada tiga nozzle yang umum digunakan oleh petani yaitu nozzle hollow (kerucut), nozzle flat fan (kipas), dan nozzle deflector.

Reinaldy mengungkapkan, nozzle hollow cukup sering digunakan oleh petani karena menyemprotkan butiran air lebih halus, sehingga tersebar secara merata di permukaan daun. "Nozzle ternyata punya banyak impact pada kualitas aplikasi. Karena dalam dunia pestisida, kita tidak hanya memperhatikan produknya saja. Jadi kalau produknya bagus tapi cara aplikasinya tidak bagus dan tidak memperhatikan bagaimana nozzle yang digunakan, produk kemungkinan besar tidak akan bermanfaat," jelasnya.

Pemahaman mengenai kondisi tanaman pun sangat penting dan selalu Syngenta edukasikan kepada petani. Field Trialist Syngenta Bobby memaparkan, ada sejumlah penyakit utama yang kerap menyerang tanaman padi di wilayah Karawang dan sekitarnya.

Umumnya, ada empat penyakit krusial yang patut diwaspadai oleh para petani. Pertama, Jamur  Pyricularia oryzae (Penyakit Blas) yang menyerang tanaman padi pada dua fase penting, yakni masa pembibitan dan proses pematangan bulir. Kemudian, Bakteri Xanthomonas oryzae (Penyakit Kresek) yang menyerang dan merusak bagian daun bendera pada tanaman padi.

Lalu, ada Jamur Cercospora (Bercak Daun) dengan gejala khas berupa bercak cokelat sempit pada daun. Infeksi ini sangat berbahaya karena mengganggu proses fotosintesis yang krusial untuk pengisian bulir padi. Terakhir, Jamur Rhizoctonia (Busuk Pelepah) yang merusak area perbatangan tanaman.

Untuk menangkal masalah tersebut, Bobby menjelaskan Syngenta Indonesia memiliki produk bernama Amistar Top yang berfungsi sebagai zat yang mampu mengendalikan penyakit tanaman akibat jamur. “Kita pastinya punya Amistar Top. Itu fungsi yang cukup untuk beberapa penyakit. Ketika Amistar Top ini digunakan dengan tepat, jika dilakukan secara tepat sesuai dengan staging penyakitnya dan target penyakitnya, ini akan memberi ketahanan ke tanaman itu sendiri,” ungkap Bobby.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×