Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebutuhan terhadap talenta yang memiliki keterampilan di bidang kecerdasan buatan (AI) terus meningkat seiring dengan percepatan transformasi digital. Kondisi ini mendorong IBM Indonesia bersama Dicoding Indonesia memperluas akses pembelajaran AI melalui program Pijak 2026.
Program yang merupakan kolaborasi IBM melalui IBM SkillsBuild dan Dicoding Indonesia tersebut telah diikuti lebih dari 20.000 peserta. Mereka mendapatkan akses pembelajaran mengenai sejumlah materi, mulai dari pengenalan AI, generative AI, etika AI, hingga pengelolaan karier.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 600 peserta dengan performa terbaik melanjutkan ke pembelajaran berbasis proyek. Program intensif ini mencakup lebih dari 900 jam pembelajaran dengan pendampingan dari praktisi industri.
Sepanjang program, peserta menghasilkan lebih dari 100 proyek akhir (capstone project) yang diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat maupun industri.
Salah satu proyek dengan performa terbaik adalah Sigap AI, yakni platform berbasis AI yang membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memantau ulasan pelanggan, menganalisis sentimen, mengidentifikasi isu utama, serta menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti.
Baca Juga: IBM: Era Uji Coba Berakhir, Perusahaan Mulai Tuntut ROI dari Investasi AI
General Manager IBM ASEAN Catherine Lian mengatakan, perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap talenta yang mampu memahami sekaligus mengelola teknologi tersebut semakin penting.
“Inovasi AI terus menghadirkan tantangan sekaligus menginspirasi berbagai organisasi lintas industri, sehingga kebutuhan akan talenta yang siap menghadapi era AI menjadi semakin penting,” ujar Catherine dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).
Menurut dia, semakin berkembangnya model AI open source membuat laju transformasi teknologi semakin cepat. Karena itu, talenta digital tidak hanya perlu memiliki kemampuan menggunakan AI, tetapi juga memahami cara berkolaborasi dengan agen AI, mengelolanya secara bertanggung jawab, serta membangun solusi berbasis AI.
Sementara itu, Chief Executive Officer Dicoding Indonesia, Narenda Wicaksono mengatakan, pengembangan keterampilan perlu diikuti dengan upaya memperluas akses peserta terhadap dunia kerja.
“Selain menghadirkan pengalaman pembelajaran terbaik, kami juga ingin memastikan para peserta yang telah menyelesaikan program memiliki peluang lebih luas untuk memasuki dunia kerja,” kata Narenda.
Baca Juga: IBM Dorong Perusahaan Asia Pasifik Bertansformasi Berbasis AI pada 2030
Dicoding berencana menggelar Pijak Career Fair pada Agustus 2026 untuk mempertemukan peserta program dengan perusahaan yang membutuhkan talenta digital.
Di sisi lain, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. med. Setiawan, dr, mendorong keberlanjutan program tersebut hingga 2027. Menurut dia, keterampilan AI yang diperoleh peserta dapat digunakan untuk menjawab berbagai tantangan dan mengembangkan solusi bagi berbagai sektor industri.
Program Pijak 2026 juga didukung oleh lebih dari 1.200 institusi pendidikan di seluruh Indonesia. Partisipasi tersebut memperluas akses pengembangan keterampilan AI dan digital sekaligus mempertemukan sektor pendidikan, industri, dan pemerintah dalam pengembangan talenta digital.
IBM dan Dicoding menyebut program Pijak ditujukan untuk membantu peserta lebih adaptif terhadap perkembangan AI serta meningkatkan kesiapan mereka menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Baca Juga: IBM ASEAN Blak-Blakan Soal Tantangan Bisnis AI di Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
