Reporter: Genta Disa | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri e-commerce Indonesia mulai memasuki fase pertumbuhan yang tidak lagi semata-mata mengejar peningkatan volume transaksi. Pelaku industri kini semakin menaruh perhatian pada kualitas pertumbuhan, efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis.
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) periode 2026–2028, Budi Primawan, mengatakan pertumbuhan industri e-commerce Indonesia mulai mengalami pergeseran.
“Pertumbuhan Industri kini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan transaksi, tetapi mulai bergeser pada kualitas pertumbuhan, efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis,” ujar Budi kepada Kontan, Senin (28/09/2026).
Menurut Budi, aktivitas masyarakat pada kanal digital masih menunjukkan perkembangan yang cukup kuat. Kondisi tersebut tercermin dari tingginya penggunaan layanan digital, termasuk untuk transaksi pembayaran dan aktivitas belanja.
“Kalau melihat indikator makro digital, aktivitas masyarakat di kanal digital masih cukup kuat,” katanya.
Baca Juga: Hilirisasi Batubara Jadi Bensin Terkendala Biaya Investasi yang Tinggi
Berdasarkan data Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital pada Juli 2026 mencapai sekitar 5,50 miliar transaksi. Angka tersebut tumbuh 28,69% secara tahunan.
“Ini menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat menggunakan layanan digital, termasuk untuk transaksi dan belanja, masih terus berkembang,” tegas Budi.
Faktor pendorong e-commerce
Budi menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja industri e-commerce sepanjang semester I-2026. Selain daya beli masyarakat, momentum promosi dan peningkatan adopsi pembayaran digital turut menopang aktivitas perdagangan melalui kanal digital.
“Faktor yang memengaruhi kinerja e-commerce antara lain daya beli masyarakat, kampanye Ramadan dan Lebaran, tanggal kembar, perluasan pembayaran digital, efisiensi logistik, serta semakin banyaknya pelaku usaha yang menggunakan kanal digital,” tuturnya.
Meski masih mencatatkan perkembangan positif, industri e-commerce Indonesia tetap menghadapi berbagai tantangan. Pelaku usaha perlu menyesuaikan strategi bisnis dengan perkembangan regulasi, tingkat persaingan, serta kebutuhan untuk menjaga efisiensi operasional.
Baca Juga: B50 Mulai Berlaku Oktober 2026, Ini Persiapan Infrastruktur Pertamina Patra Niaga
“Industri juga sedang menyesuaikan diri dengan dinamika regulasi, biaya kepatuhan, kompetisi yang semakin ketat, dan tuntutan untuk membangun model bisnis yang lebih sehat,” ujarnya kepada Kontan, Senin (28/09/2026).
Prospek semester II-2026
Memasuki semester II-2026, idEA masih melihat prospek industri e-commerce Indonesia tetap positif. Momentum belanja melalui kanal digital diperkirakan kembali menguat seiring berlangsungnya berbagai kampanye perdagangan pada paruh kedua tahun ini.
Momentum tanggal kembar, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), hingga periode belanja akhir tahun menjadi sejumlah katalis yang berpotensi menjaga aktivitas e-commerce tetap tumbuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














