Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nihilnya tarif impor kopi yang dikenakan Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia dalam perjanjian dagang dinilai menjadi angin segar bagi industri kopi nasional.
Ketua Departemen Specialty & Industri BPP Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo mengatakan, tarif 0% tersebut mendorong daya saing kopi Indonesia dibandingkan produk dari negara produsen lain.
AEKI mencatat, 2025 menjadi momentum produksi tertinggi dengan capaian 12,5 juta hingga 13 juta karung atau sekitar 750.000 ton hingga 780.000 ton.
Baca Juga: Pengusaha Rental Berharap Omzet Naik pada Musim Mudik, Daya Beli Jadi Faktor Kunci
Produksi Diproyeksi Turun
Meski demikian, AEKI memperkirakan produksi kopi tahun ini akan lebih rendah. Proyeksi penurunan dipicu anomali cuaca serta turunnya produksi kopi arabika akibat bencana di Sumatra pada akhir 2025.
Walau prospek ekspor terutama ke pasar AS dinilai tetap menjanjikan, Moelyono menyoroti sejumlah tantangan yang masih membayangi.
“Masalah logistik masih menjadi faktor penghambat. Waktu pengapalan lebih lama dibanding kopi dari negara-negara di Amerika Selatan,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (1/3/2026).
Selain logistik, konsistensi pasokan juga menjadi perhatian. Ia menyebut pasokan kopi Indonesia relatif lebih terbatas dibandingkan sejumlah negara produsen lain, seiring konsumsi domestik yang terus meningkat.
Baca Juga: Konflik Iran–Israel Ganggu Penerbangan Timur Tengah, Menhub Imbau Waspada
Harapan Dukungan Pemerintah
AEKI berharap pemerintah dapat mengoptimalkan dukungan bagi industri kopi nasional, terutama melalui penyediaan pupuk dan akses pembiayaan (kredit) yang lebih terjangkau bagi petani dan pelaku usaha.
“Selain itu, pemerintah dapat memberi dukungan riset untuk varietas kopi unggulan, agar produktivitas tetap tinggi dengan daya tahan yang kuat terhadap penyakit dan cuaca ekstrem,” pungkas Moelyono.
Dengan tarif ekspor 0% ke AS, peluang pasar terbuka lebih lebar. Namun, penguatan produksi, logistik, dan dukungan hulu dinilai tetap krusial agar Indonesia mampu memaksimalkan momentum tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













