kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Tarif Resiprokal AS Bisa Tekan Peternak Ayam, INDEF Sarankan Strategi Efisiensi


Kamis, 05 Maret 2026 / 22:22 WIB
Tarif Resiprokal AS Bisa Tekan Peternak Ayam, INDEF Sarankan Strategi Efisiensi
ILUSTRASI. Dampak Kenaikan Harga Pakan pada Ketersediaan Daging Ayam (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan impor dan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) berpotensi memperberat kondisi petani dan peternak ayam di dalam negeri.

Pemerintah diminta memperkuat daya saing produksi domestik agar sektor ini tidak semakin tertekan.

Senior Economist Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai, solusi utama adalah menekan biaya produksi domestik sehingga produk lokal bisa bersaing dengan barang impor.

Baca Juga: ISACA Dorong Penguatan Tata Kelola Digital di Tengah Transformasi Perdagangan

Menurut Tauhid, pemerintah perlu memastikan harga pakan, obat-obatan, serta layanan kesehatan hewan bisa ditekan melalui dukungan kebijakan.

“Yang paling penting memastikan biaya produksi lebih murah, terutama dari sisi pakan dan obat-obatan. Itu bisa didukung kebijakan pemerintah sehingga harga jual di dalam negeri tetap kompetitif dibandingkan impor,” ujar Tauhid usai konferensi pers Prognosa Research and Consulting di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Tauhid juga menekankan pentingnya memanfaatkan proyek-proyek besar pemerintah sebagai pasar bagi produk petani dan peternak lokal. Langkah ini diharapkan membuat produksi dalam negeri tidak tersisih oleh barang impor.

Selain itu, ia melihat momentum renegosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat masih terbuka.

Saat ini, tarif global perdagangan berada di kisaran 15%, dan Indonesia perlu mendorong agar tarif tersebut ditekan.

Baca Juga: UPM Perkuat Jejaring Global Lewat Asia Business Case Program

“Kalau bisa tarif global yang sekarang sekitar 15% itu bisa ditekan menjadi sekitar 10%. Itu bisa membuka ruang lebih besar bagi perdagangan kita,” katanya.

Namun, Tauhid mengingatkan, renegosiasi perdagangan tidak cukup jika tidak dibarengi penguatan sektor produksi domestik.

Tanpa perbaikan efisiensi biaya produksi, produk petani dan peternak dalam negeri tetap sulit bersaing dengan impor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×