Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri panel surya nasional mulai merasakan tekanan akibat kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap produk panel surya asal Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai memukul kinerja ekspor produsen dalam negeri yang selama ini sangat bergantung pada pasar AS.
Departemen Perdagangan AS pada 24 Februari 2026 menetapkan tarif bea masuk imbalan sementara (BMIS) sebesar 85,99% hingga 143,30% terhadap produk panel surya asal Indonesia. Kebijakan ini langsung berdampak pada penurunan permintaan ekspor dari pembeli asal Negeri Paman Sam.
Ketua Umum Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), I Made Sandika Dwiantara mengatakan, sejak awal April 2026 pesanan dari pasar AS mulai mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut membuat industri panel surya nasional menghadapi tantangan besar dalam menjaga utilisasi produksi.
“Terjadi pengurangan pesanan dari buyer asal AS secara signifikan sejak awal April 2026, dan belum adanya pasar alternatif lain yang signifikan untuk menampung hasil produksi pabrikan dalam negeri,” ujar Made kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga: Pertamina Hulu Mahakam Tingkatkan Produksi Lapangan Handil 5% Pascarevitalisasi
Menurut Made, sebagian anggota APAMSI memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasar AS. Bahkan, ada produsen yang hampir seluruh kapasitas produksinya ditujukan untuk memenuhi permintaan ekspor ke Amerika Serikat.
“Ada yang hampir 100% produksinya untuk mensuplai pasar AS,” katanya.
Situasi tersebut mendorong sejumlah pabrikan mulai mengalihkan fokus penjualan ke pasar lain, termasuk memperbesar penetrasi di pasar domestik. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah hambatan ekspor yang semakin berat.
Di sisi lain, industri panel surya nasional kini menaruh harapan besar pada program pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) yang sedang didorong pemerintah.
Program tersebut dinilai dapat menjadi solusi untuk menyerap kapasitas produksi dalam negeri yang selama ini mengandalkan pasar ekspor.
Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Lay's Klaim Kemasan Produk Pakai Plastik Mudah Daur Ulang
Made menjelaskan, perkembangan industri panel surya nasional dalam lima tahun terakhir tidak terlepas dari tingginya permintaan dari pasar AS. Pada 2020, kapasitas produksi panel surya nasional masih berada di bawah 1 GW per tahun. Namun, kapasitas tersebut kini melonjak menjadi sekitar 10 GW per tahun.
“Dominasi penjualan ke pasar AS sangat besar karena menjanjikan kepastian penyerapan pasar atas investasi yang dilakukan,” ujarnya.
Dengan kondisi ekspor yang semakin menantang, APAMSI berharap pasar domestik dapat menjadi penopang baru bagi industri panel surya nasional. Industri juga menyatakan kesiapan mendukung program transisi energi pemerintah melalui penggunaan produk lokal yang kompetitif dan berstandar internasional.
“Kami sangat serius mendukung pemerintah untuk mensukseskan program PLTS 100 GW dengan komitmen pemanfaatan produk lokal dengan mengandalkan harga yang kompetitif, kualitas, produk standar internasional dan aftersales yang siap 24/7,” pungkas Made.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













