Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) mencatatkan penurunan kinerja pada periode awal tahun 2026 seiring kondisi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak global.
Mengutip laporan keuangan perusahaan, pendapatan SPTO tercatat sebesar Rp 484,48 miliar per kuartal I-2026, atau menurun 16,% dibandingkan Rp 576,93 miliar pada kuartal I-2025.
Di sisi segmentasi pasar, penjualan lokal tercatat sebesar Rp 357,42 miliar, lebih rendah 17,9% secara tahunan (yoy). Sementara untuk ekspor angnya menurun 10,3% menjadi Rp 127,06 miliar.
Corporate Secretary SPTO, Adhi Sudargo mengatakan pada kuartal I-2026 perusahaan menghadapi tekanan eksternal akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak global.
Baca Juga: Libur Panjang Dongkrak Kunjungan Mal, APPBI Optimistis Ritel Tetap Bergairah
“Pada kuartal pertama tahun 2026, Perseroan mencatatkan kinerja yang masih menghadapi tantangan seiring dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih,” ujarnya dalam paparan publik, Selasa (2/6).
Kondisi tersebut menimbulkan tekanan pada beberapa aspek, mulai dari pelemahan daya beli masyarakat, lonjakan biaya operasional, hingga potensi perlambatan sektor properti dan konstruksi yang menjadi salah satu penggerak permintaan perusahaan selama ini.
Hal initercermin pada penurunan pendapatan perusahaan untuk periode kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam merespons kondisi tersebut, SPTO tetap menerapkan pendekatan yang prudent dan berhati-hati dalam menjalankan kegiatan usaha.
Fokus utama perusahaan adalah mempertahankan arus kas yang sehat, serta mengelola tingkat persediaan secara optimal sesuai dengan kondisi permintaan pasar untuk menjaga profitabilitas.
Sebagai strategi mempertahankan kinerja ke depan, SPTO akan terus fokus memperkuat posisi pasar melalui kombinasi strategi pengembangan merek serta diversifikasi produk.
“Dari sisi pemasaran, Perseroan akan meningkatkan aktivitas branding baik secara offline maupun digital guna memperkuat kesadaran konsumen terhadap kualitas dan keunggulan produk-produk TOTO yang dikenal dengan standar kualitas Jepang,” sebutnya.
Selain itu, pengembangan merek Zanru akan terus dilakukan untuk memperkuat segmen konsumen yang lebih muda dengan desain modern dan harga terjangkau.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menjangkau kebutuhan konsumen di tengah kondisi daya beli yang masih menantang.
SPTO juga berencana mengembangkan platform digital melalui peluncuran situs web penjualan mandiri sebagai sarana pemasaran dan penjualan langsung kepada konsumen, sehingga dapat melengkapi distribution channel yang telah ada.
“Dalam jangka panjang, Perseroan meyakini bahwa pertumbuhan industri saniter dan perlengkapan kamar mandi akan tetap sejalan dengan perkembangan ekonomi nasional, urbanisasi, pembangunan properti, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas hidup dan kebersihan,” pungkasnya.
Hingga akhir kuartal I-2026, laba periode berjalan SPTO menyusut ke angka Rp 45,36 miliar, dari semula Rp 85,88 miliar du periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Lion Air Optimistis Permintaan Perjalanan dan Umrah Tetap Tumbuh Meski Rupiah Melemah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













