CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.962   0,00   0,00%
  • IDX 6.307   75,13   1,21%
  • KOMPAS100 833   10,11   1,23%
  • LQ45 634   6,58   1,05%
  • ISSI 217   2,67   1,24%
  • IDX30 357   2,78   0,78%
  • IDXHIDIV20 443   2,81   0,64%
  • IDX80 95   1,04   1,11%
  • IDXV30 119   0,59   0,50%
  • IDXQ30 115   0,74   0,65%

Bisnis Rental Mobil Tetap Prospektif Hingga Akhir 2026


Senin, 20 Juli 2026 / 20:27 WIB
Bisnis Rental Mobil Tetap Prospektif Hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Indorent, anak usaha PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) (Dok/IMJS)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis penyewaan (rental) kendaraan hingga akhir 2026 masih dinilai positif meski dibayangi ketidakpastian ekonomi global. Pelaku usaha melihat permintaan dari segmen korporasi, proyek, hingga perjalanan wisata masih menjadi penopang utama industri, walaupun sebagian asosiasi mencatat adanya pelemahan permintaan pada semester I-2026.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Organisasi Pengusaha Rental Kendaraan Indonesia (Asperda) Erwin Suryana mengatakan, secara umum bisnis rental kendaraan masih berada di jalur pertumbuhan. Menurutnya, kondisi tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap solid.

"Secara umum proyeksi bisnis rental kendaraan 2026 masih optimistis walaupun di tengah tekanan kondisi makroekonomi yang bergejolak. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi perekonomian nasional yang juga tumbuh impresif sebesar 5,6% secara tahunan pada triwulan I-2026," ujar Erwin kepada Kontan, Senin (20/7/2026).

Erwin menjelaskan, segmen korporasi dan proyek masih menjadi pasar terbesar bagi industri rental kendaraan. Permintaan datang dari kontrak sewa bulanan hingga tahunan untuk proyek industri swasta maupun instansi pemerintah. Selain itu, perjalanan dinas juga tetap memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis.

Ia menambahkan, meningkatnya investasi di kawasan industri dan pelabuhan, terutama di koridor barat Pulau Jawa seperti Banten dan Cilegon, turut mendorong kebutuhan armada komersial serta kendaraan pendukung sektor pariwisata.

Baca Juga: Bisnis Rental Mobil Tertekan, Permintaan Turun 5% di Semester I-2026

Di sisi lain, beroperasinya sejumlah ruas tol baru membuka peluang bisnis baru. Konektivitas yang semakin baik mendorong pertumbuhan layanan shuttle antarkota sekaligus meningkatkan permintaan sewa kendaraan dengan layanan point to point.

Momentum libur sekolah dan libur panjang pada periode Mei hingga Juli 2026 juga menjadi katalis positif. Erwin mencatat tingkat okupansi armada rata-rata mencapai 90% selama periode tersebut.

"Bahkan beberapa perusahaan rental kewalahan melayani lonjakan permintaan yang cukup signifikan," katanya.

Menurut Erwin, lonjakan terbesar terjadi pada kendaraan berkapasitas sedang hingga besar, seperti Toyota Hiace dan mikrobus, yang banyak digunakan untuk perjalanan wisata keluarga maupun rombongan.

Optimisme serupa disampaikan Pendiri Trans Bhinneka Indonesia Joko Hariyanto. Ia mengatakan, kinerja usahanya sepanjang tahun ini masih relatif stabil dengan permintaan terbesar berasal dari kendaraan Isuzu Elf, Toyota Kijang Innova, dan Toyota Avanza.

"Kalau di tempat saya, penjualan masih relatif stabil, terutama untuk Elf, Innova, dan Avanza," ujar Joko kepada Kontan, Senin (20/7/2026).

Menurut Joko, karakteristik permintaan berbeda antara wisatawan domestik dan mancanegara. Wisatawan asing lebih banyak menyewa Toyota Hiace, sedangkan wisatawan lokal cenderung memilih Elf, bus medium, maupun bus besar untuk perjalanan rombongan.

Pada musim liburan sekolah, okupansi armada di perusahaannya meningkat sekitar 25% dibandingkan hari biasa. Bahkan, tingginya permintaan membuat perusahaan kerap mengalihkan sebagian pesanan kepada pelaku usaha rental lain.

Baca Juga: Bisnis Rental Mobil Berharap dari Destinasi Wisata Viral Untuk Menopang Permintaan

Joko menuturkan, pelanggan utama perusahaannya berasal dari instansi pemerintah, korporasi, lembaga pendidikan, hingga organisasi keagamaan. Sejumlah kementerian, pemerintah daerah, kepolisian, serta perusahaan seperti Semen Indonesia dan Pertamina menjadi pelanggan tetap.

Meski demikian, ia mengakui pelaku usaha masih menghadapi tekanan dari kenaikan harga suku cadang dan beban pajak yang meningkatkan biaya operasional. Untuk menjaga efisiensi, perusahaan memperpanjang usia pakai komponen kendaraan melalui perawatan yang lebih optimal.

Ke depan, Joko memperkirakan permintaan akan terus meningkat seiring banyaknya destinasi wisata yang viral di media sosial. Perusahaannya pun mulai menawarkan paket open trip ke berbagai destinasi baru guna menangkap tren tersebut.

Ia berharap pemerintah terus memperbaiki infrastruktur menuju kawasan wisata, memberantas pungutan liar, serta menghadirkan kebijakan yang dapat menekan biaya operasional pelaku usaha transportasi.

Di sisi lain, pandangan berbeda disampaikan Ketua Umum Rent Car Indonesia (RCI) Rescky Noerela Roma. Menurutnya, permintaan jasa rental mobil pada semester I-2026 justru mengalami penurunan sekitar 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Jalan Menuju Swasembada Energi Ada di Sektor Transportasi

"Kondisi perekonomian yang belum stabil membuat masyarakat menunda perjalanan wisata maupun liburan. Di sisi lain, kegiatan pemerintah dan swasta juga berkurang, termasuk efisiensi perjalanan dinas," ujar Rescky kepada Kontan, Senin (20/7/2026).

Rescky mengatakan, pelemahan permintaan terjadi tidak hanya di sektor pariwisata, tetapi juga berasal dari pelanggan korporasi, instansi pemerintah, dan penyelenggara event. Meski begitu, ia menilai jasa rental mobil tetap menjadi pilihan utama di destinasi yang belum memiliki transportasi umum memadai, terutama untuk layanan sewa kendaraan beserta pengemudi.

Menurutnya, periode liburan sekolah, libur panjang, hingga akhir tahun masih menjadi musim puncak industri. Pada periode tersebut, tingkat okupansi armada, terutama segmen SUV, MPV, dan bus pariwisata, dapat mendekati penuh apabila pemesanan dilakukan jauh hari.

Rescky menambahkan, segmen korporasi, instansi pemerintah, dan penyelenggara event masih menjadi kontributor terbesar permintaan jasa rental, disusul wisata keluarga dan rombongan.

Ia mengakui tantangan industri masih berasal dari kenaikan biaya operasional, mulai dari harga bahan bakar minyak (BBM), suku cadang, biaya perawatan armada, hingga tenaga kerja. Di saat yang sama, persaingan tarif membuat perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan harga sebagai strategi utama.

Karena itu, RCI mendorong pelaku usaha memperkuat pasar korporasi, meningkatkan kualitas layanan, serta memanfaatkan sistem digital untuk mempermudah proses pemesanan. Menurut Rescky, langkah tersebut akan menjadi kunci menjaga pertumbuhan bisnis rental mobil hingga akhir 2026. 

Baca Juga: BIRD Tambah Lini Layanan, Bluebird Prime Sasar Segmen Premium Harian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×