kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Tidak adil gaji lulusan S1 disamakan dengan buruh


Rabu, 06 November 2013 / 16:13 WIB
ILUSTRASI. RUPS dan paparan publik PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Suryadi Sasmita menilai beberapa pengusaha dan pemberi kerja tidak adil dalam memberikan upah kepada pegawainya. Dalam hal ini upah buruh yang naik menjadi Rp 2,4 juta, masih dirasakan oleh pegawai yang mempunyai gelar sarjana (S1).

"Kalau pekerja lulusan Sekolah Dasar (SD) itu bergaji sama dengan yang lulusan universitas, ya itu sangat tidak fair," ujar Suryadi di Hotel Grand Melia, Rabu (6/11).

Selain itu Suryadi juga memberi contoh dalam memberikan upah semua buruh sama rata. Padahal menurut Suryadi, ada buruh yang rajin dan malas dalam bekerja, ada pula buruh yang pintar dan kurang pintar dalam bekerja.

"Dalam pengupahan buruh yang rajin, malas, pintar, kurang pintar sama gajinya, itu kurang fair juga," ungkap Suryadi.

Karena hal tersebut, Suryadi menilai kenaikan gaji buruh selama dua tahun ini belum cukup adil untuk semua pekerja. Kenaikan upah menurut Suryadi harus juga dilihat dari masa kerja seorang pegawai mengabdi kepada satu perusahaan.

"Kalau kenaikan terlalu tinggi untuk yang bawah, orang yang bekerja lebih dari satu tahun dan lima tahun sama. Orang yang sudah kerja lama merasa tidak fair," jelas Suryadi. (Tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×