kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.980   -15,00   -0,09%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Total 158.508 Kecelakaan Lalu Lintas di 2025, Keselamatan Jalan Tak Hanya Saat Mudik


Selasa, 24 Maret 2026 / 12:05 WIB
Total 158.508 Kecelakaan Lalu Lintas di 2025, Keselamatan Jalan Tak Hanya Saat Mudik
ILUSTRASI. Kenaikan tarif Jalan Tol Semarang-Batang (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Road Safety Association (RSA) atau Asosiasi Keselamatan Jalan menyorot masalah keselamatan jalan yang disebut menjadi perhatian pemerintah hanya ketika periode mudik.

Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association, Rio Octaviano menuturkan, setiap musim mudik, berbagai kementerian dan lembaga saling berkoordinasi untuk memastikan kelancaran arus mudik.

"Namun, setelah arus berakhir, perhatian terhadap keselamatan jalan sering kali memudar, dan kebijakan keselamatan pun kembali menjadi masalah yang terabaikan," ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan, Selasa (24/3/2026).

Rio memaparkan, sepanjang 2025, data kecelakaan lalu lintas mencatat sebanyak 158.508 kejadian kecelakaan, dengan 24.296 korban meninggal dunia dan total 238.878 korban terdampak.

Baca Juga: Skenario Lalu Lintas di Tol Saat Mudik Lebaran

Dus, jika ditarik dalam skala waktu, hampir tiga orang meninggal setiap jam, atau satu nyawa hilang setiap 20 menit di jalan raya Indonesia.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 281 juta jiwa, lanjut Rio, tingkat fatalitas kecelakaan lalu lintas berada pada kisaran 8–9 kematian per 100.000 penduduk.

"Hal ini mencerminkan bahwa sistem keselamatan jalan masih memerlukan penguatan yang lebih serius dan terintegrasi," imbuhnya.

Kecelakaan juga masih terjadi di jalan yang seharusnya aman. Rio melanjutkan, sepanjang 2025, sebanyak 137.658 kasus terjadi di jalan lurus, 153.930 kasus terjadi pada kondisi permukaan jalan yang baik, dan 151.289 kasus terjadi dalam cuaca cerah.

"Temuan ini mematahkan asumsi lama bahwa kecelakaan terutama disebabkan oleh jalan rusak atau kondisi cuaca buruk. Sebaliknya, kecelakaan lebih banyak terjadi dalam kondisi normal, ketika sistem seharusnya mampu memberikan perlindungan yang optimal," ungkap Rio.

Di sisi lain, kendaraan yang terlibat kecelakaan didominasi oleh sepeda motor sebanyak 212.414 unit, angkutan barang sebanyak 29.174 unit, serta angkutan orang (bus) sebanyak 21.269 unit.

Baca Juga: Volume Lalu Lintas Tol Regional Nusantara Naik 8,2% hingga H+1 Tahun Baru 2026

Selain itu, dari sisi kepatuhan pengemudi, terdapat 63.013 pelaku kecelakaan yang tidak memiliki SIM, jauh lebih tinggi dibandingkan pemegang SIM C (14.033 orang) maupun SIM A (1.052 orang). Menurut Rio, ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam aspek kepatuhan, kompetensi, serta pengawasan.

Oleh karena itu, RSA menegaskan keselamatan jalan perlu menjadi prioritas pemerintah yang seharusnya berjalan konsisten sepanjang tahun.

"Pejabat yang digaji oleh negara untuk melayani masyarakat harusnya sadar bahwa tugas mereka jauh lebih penting daripada sekadar merencanakan dan mengumumkan kebijakan selama mudik," ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu faktor yang berperan penting dalam menciptakan sistem keselamatan yang efektif adalah kendaraan yang berkeselamatan. Menurut Rio, pemerintah perlu memastikan kendaraan yang digunakan oleh masyarakat memenuhi standar keselamatan yang tinggi, khususnya di jalan-jalan yang sudah baik dan lurus.

Meskipun demikian, ia menegaskan keselamatan jalan melibatkan keseluruhan sistem, termasuk perilaku pengguna jalan yang harus terus diperbaiki melalui edukasi dan penegakan hukum yang konsisten.

Baca Juga: Libur Nataru 2025/2026, Lalu Lintas di Jalan Layang MBZ Naik 32%

Selain itu, penanganan pasca kecelakaan yang melibatkan Kementerian Kesehatan dan lembaga lain seperti PT Jasa Raharja juga dinilai sangat penting untuk memastikan respons yang cepat dan efektif.

"Pemerintah harus memprioritaskan konsistensi dalam menurunkan angka fatalitas yang seharusnya dijalankan dalam keseharian tugasnya, bukan hanya di momen-momen tertentu. Setiap nyawa yang hilang adalah kegagalan kita sebagai bangsa dalam memberikan perlindungan yang seharusnya bisa diantisipasi," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×