Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beroperasinya pabrik kendaraan listrik BYD di Subang, Jawa Barat yang diklaim mencapai total investasi Rp 16 triliun dinilai menjadi momentum penting bagi penguatan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Anggota Komisi XII DPR RI, Cek Endra menyambut konsistensi pemerintah dalam mendorong investasi serta keberlanjutan agenda hilirisasi industri di dalam negeri.
Pabrik BYD di Subang yang berdiri di atas lahan seluas 126 hektare tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun serta menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja.
Fasilitas ini menerapkan proses manufaktur penuh meliputi pengepresan panel bodi, pengelasan, pengecatan, hingga perakitan, yang diharapkan tidak sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar sasaran.
"Beroperasinya pabrik BYD menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi mulai mengambil posisi sebagai basis produksi yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan penguasaan teknologi di dalam negeri," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (4/9/2026).
Cek Endra menekankan, investasi manufaktur tersebut perlu dilanjutkan dengan pendalaman rantai industri secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Pengembangan sektor ini dinilai harus mencakup produksi baterai dan battery pack, motor listrik, perangkat elektronik, komponen pendukung, riset teknologi, hingga industri daur ulang baterai dengan mengoptimalkan pemasok lokal.
Baca Juga: Pabrik BYD Subang Resmi Beroperasi, Pemerintah Dorong TKDN Kendaraan Listrik
"Hilirisasi tidak boleh berhenti pada manufaktur kendaraan. Tingkat komponen dalam negeri dan transfer teknologi harus terus ditingkatkan. Rencana BYD membangun jaringan 100 stasiun pengisian pada 2026 serta memperluas fasilitas manufaktur dan baterai perlu direalisasikan agar Indonesia menjadi basis produksi sekaligus pusat pengembangan teknologi kendaraan listrik," katanya.
Ia menambahkan, investasi ini perlu dijadikan pemantik untuk memperkuat agenda transisi energi nasional yang sejalan dengan visi pemerintah.
Di samping itu, lanjut dia, kehadiran teknologi pengisian daya berdaya tinggi yang diperkenalkan BYD diharapkan mampu mengatasi kekhawatiran masyarakat terkait durasi pengisian baterai kendaraan listrik sehingga proses adopsi bisa berlangsung lebih cepat.
"Dengan beroperasinya pabrik di Indonesia, BYD semestinya memperoleh efisiensi dari sisi produksi, logistik, dan rantai pasok. Kita berharap efisiensi tersebut diteruskan kepada konsumen melalui penurunan harga atau pemberian diskon dibandingkan harga sebelumnya. Apabila insentif pemerintah, produksi lokal, infrastruktur pengisian daya, dan harga yang semakin terjangkau berjalan bersama, peralihan masyarakat menuju kendaraan listrik akan berlangsung lebih cepat dan masif," pungkasnya.
Baca Juga: BYD Resmikan Pabrik di Subang, Investasi Rp 11,7 Triliun dan Kapasitas 150.000 Unit
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














