kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Total kerugian peritel akibat banjir capai Rp 1 triliun


Kamis, 02 Januari 2020 / 21:50 WIB
Total kerugian peritel akibat banjir capai Rp 1 triliun
Pekerja membuang air yang masuk ke dalam toko saat banjir menggenangi kawasan Pasar Baru di Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Anna Suci

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banjir yang melanda wilayah Jabodetabek mengakibatkan kerugian bagi peritel. Tak tanggung-tanggung, kerugian peritel di wilayah Jakarta saja mencapai Rp 960 miliar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menjelaskan, kerugian tersebut berdasarkan eskalasi perhitungan jumlah toko ritel yang tutup akibat banjir. Selain itu, perhitungan juga dibuat dengan melihat jumlah penduduk yang terdampak banjir dan pengeluaran mereka pada setiap tahun baru.

Adapun untuk area Jakarta saja tercatat ada 300 toko yang tutup akibat banjir.  Dengan mengambil pengeluaran berbelanja terkecil, yakni Rp 100.000 dengan jumlah penduduk terdampak langsung sebanyak 32.000 jiwa maka kerugian mencapai Rp 960 miliar.

Baca Juga: Sogo sebut banjir membuat penjualan ritel berkurang

"Padahal, periode Natal dan Tahun Baru itu  menjadi penjualan maksimal bagi peritel," kata dia, kepada Kontan.co.id, Kamis (2/1).

Jika melebarkan wilayah banjir, Roy menyebutkan, ada 400 toko yang tutup dengan jumlah korban yang terdampak langsung ditambah 20.000 korban. Dengan hitungan ini, maka total kerugian peritel mencapai di atas Rp 1 triliun.

Adapun, perhitungan tersebut belum termasuk kerugian pusat perbelanjaan yang juga terkena dampak banjir sebanyak 10 pusat perbelanjaan dan kerugian dari pasar tradisional.

Baca Juga: Banjir membuat tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan turun 30%

Oleh sebab itu, dia berharap dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki kontigensi plan untuk banjir. "Paling tidak kami mengharapkan keseriusan Pemprov mengatasi masalah ini karena ini berimbas pada tingkat konsumsi. Terlebih selama ini pertumbuhan ekonomi ditopang dari konsumsi rumah tangga," jelas Roy.

Selain itu, pihaknya berharap pengalaman ini menjadi pembelajaran terakhir juga bagi Pemprov DKI Jakarta sehingga penanganannya dapat dilakukan sesegera mungkin.





Close [X]
×