kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Harga Daging Sapi Naik, APPDI Sarankan Operasi Pasar Daging Kerbau


Minggu, 15 Februari 2026 / 17:57 WIB
Harga Daging Sapi Naik, APPDI Sarankan Operasi Pasar Daging Kerbau
ILUSTRASI. Harga Daging Sapi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga daging sapi di pasar ritel naik mendekati harga eceran tertinggi (HET) Rp 140.000 per kilogram. Kenaikan harga daging sapi dipengaruhi kombinasi faktor musiman dan dinamika pasokan. 

Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah stabilisasi, terutama melalui pengendalian harga sapi hidup dan intervensi pasar menggunakan daging kerbau impor.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha dan Pengolahan Daging Indonesia (APPDI) Teguh Boediyanamengatakan pemerintah telah menetapkan harga sapi hidup di tingkat feedlotter sebesar Rp55.000 per kilogram serta menugaskan badan usaha milik negara (BUMN) untuk melakukan stabilisasi melalui impor daging kerbau.

“Pemerintah sudah melakukan upaya untuk menahan lonjakan harga daging di wet market khususnya. Antara lain menetapkan harga sapi hidup di feedlotter Rp55.000 per kilogram. Selain daripada itu pemerintah menugaskan BUMN stabilisasi harga daging dengan mengimpor daging kerbau,” ujar Teguh kepada Kontan, Minggu (15/2/2026).

Baca Juga: Permintaan Mendaki, Industri Makanan Minuman Sambut Imlek dan Ramadan - Idulfitri

Menurut Teguh, kenaikan harga saat ini belum dapat dijelaskan secara spesifik oleh satu faktor tunggal. Namun, peningkatan permintaan menjelang Ramadan dan Lebaran diduga berperan besar.

“Tidak ada yang bisa menjelaskan secara tepat adanya kenaikan harga daging. Mungkin karena munggahan yang menjadikan harga naik karena permintaan meningkat. Menjelang lebaran kemungkinan harga sedikit naik karena para pengecer juga mengharapkan kenaikan income untuk lebaran," jelasnya.

Teguh menambahkan, izin impor daging baru diberikan pada awal Februari sehingga pasokan tambahan belum langsung masuk ke pasar.

“Daging impor baru diberi izin awal Februari. Butuh waktu sekitar 1–2 bulan daging masuk," ujarnya.

Untuk jangka pendek, Teguh menilai langkah paling efektif adalah operasi pasar dengan memanfaatkan stok daging kerbau impor oleh BUMN yang dipatok Rp80.000 per kilogram.

“Memang masalah lebaran ini kan short term, jadi memang harus, pertanyaannya apa yang dilakukan pemerintah, mungkin yang paling efektif yaitu dengan intervensi pasar dengan mendayagunakan BUMN yang memang sudah diberi monopoly impor daging kerbau. Dan daging kerbau memang tujuannya diimpor untuk menekan harga," kata Teguh.

Teguh meyakini pemerintah masih memiliki stok daging kerbau yang memadai untuk kebutuhan stabilisasi harga.

“Saya yakin pemerintah mempunyai stok yang cukup untuk daging kerbau, karena tahun lalu juga diberikan privilege kepada BUMN untuk mengimpor dalam jumlah yang sangat besar daging kerbau, selain juga daging regular artinya dari negara-negara selain India," lanjutnya.

Namun, ia mengingatkan kebijakan stabilisasi tidak bisa hanya bersifat jangka pendek. Untuk jangka menengah dan panjang, perlu perbaikan mekanisme pasar agar harga lebih stabil.

“Tapi yang harus kita pikir adalah kita tidak hanya berpikir hanya short term untuk lebaran, justru nanti setelah lebaran dan selamanya ya, saya kira perlu juga dipikirkan untuk bisa relatif daging sapi stabil, meskipun kita tidak bisa mengabaikan perkembangan karena sebagian itu daging impor, jadi kenaikan harga dolar dan sebagainya juga pasar internasional itu sangat berpengaruh," jelasnya.

Baca Juga: Harga Daging Naik Jelang Ramadhan, Asosiasi & Pelaku Usaha Soroti Kisruh Kuota Impor

APPDI juga mendorong pemerintah meninjau kembali kuota impor daging sapi untuk swasta pada 2026 yang saat ini ditetapkan 30.000 ton.

“Pemerintah meninjau kembali kuota yang diberikan kepada swasta yang hanya 30 ribu ton untuk tahun 2026 ini ditinjau dan dikembalikan kepada tahun 2025 yakni 180 ribu ton," lanjutnya.

Menurut Teguh, kebijakan tersebut dapat membantu menciptakan keseimbangan pasokan dan permintaan sekaligus memperbaiki mekanisme pasar.

“Ini nanti akan membantu sekali adanya kestabilan harga daging dan juga adanya mekanisme pasar yang jauh lebih sehat sehingga konsumen itu akan lebih banyak diuntungkan," ujarnya.

Untuk jangka pendek, Teguh kembali menegaskan pentingnya pelepasan stok dan operasi pasar.

Selanjutnya: Rasio Utang Bisa Tembus 42% dari PDB, Bila Pendapatan Negara Tak Capai Target

Menarik Dibaca: HP Android Bebas Iklan 2026: Rasakan Nyaman Tanpa Gangguan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×