kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Tren okupansi hotel turun, PHRI: 2018 turis bisa tembus 2,5 juta


Rabu, 17 Januari 2018 / 21:15 WIB
ILUSTRASI. Haryadi Sukamdani


Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menilai jumlah kamar hotel di Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara Asia lain, termasuk India dan Australia.

"Indonesia jumlah kamarnya tertinggi. Hanya saja memang kita masih kalah dengan China. Kalau di Malaysia jumlah kamarnya 320 ribu, Thailand 300 ribu dan Indonesia 600 ribu belum termasuk AirBnb," ujar Hariyadi di acara pemaparan Forum Diskusi MarketPlus Center for Tourism & Hospitality di 88 Kasablanka, Jakarta, Rabu (17/1).

Meskipun jumlah kamar hotel baik bintang dan non bintang lebih besar dari negara asing lain, tren pendapatan (revenue) dari kamar yang tersedia menurun. Terbukti pada tahun 2013 kisaran pendapatan US$ 100 dan turun menjadi US$ 90 pada Oktober 2017.

"Harus ada perbaikan inventory. Kalau tidak akan sulit bersaing. Padahal kita sangat siap untuk hotel di tahun 2018," pungkasnya.

Tidak hanya pendapatan, okupansi hotel di Indonesia pun rata-rata naik turun. Hariyadi bilang tingkat okupansi tahun 2015 sempat drop, dan tahun 2017 pun membaik. Pada Oktober 2017 tingkat okupansi hotel di Indonesia rata-rata 7,5%.

Walaupun tingkat okupansi dan pendapatan hotel Indonesia mengalami tren penurunan, namun Hariyadi yakin tingkat kunjungan wisatawan mancanegara akan mencapai 2,5 juta orang pada tahun 2018.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×