kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45700,06   2,33   0.33%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Mengupas potensi rumah toko hotel alias rukotel


Rabu, 03 Januari 2018 / 19:05 WIB
Mengupas potensi rumah toko hotel alias rukotel

Berita Terkait

Reporter: Klaudia Molasiarani | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belum banyak pengembang properti yang melirik pembangunan rumah, toko dan dan hotel (rukotel). Namun bisnis ini dinilai memiliki potensi yang cukup baik ke depan.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Jhonnie Sugiarto mengatakan, bisnis rukotel saat ini memang sedang marak, lantaran ada pasarnya. Rukotel sejatinya sudah ada sejak tiga hingga lima tahun yang lalu, di mulai dari daerah - daeerah seperti di Banjarmasin, Bali, Palembang, dan daerah - daerah lain.


"Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, jadinya banyak traveler pemula dan traveler yang sangat memperhatikan masalah biaya. Dengan Rp 100.000 sampai Rp 200.000, mereka sudah bisa mendapatkan tempat menginap," ujar Jhonnie kepada Kontan.co.id, Rabu (3/1).

Rukotel sejatinya hanya mengubah bentuk ruko dengan melakukan renovasi menjadi hotel. Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk, Theresia Rustandi menjelaskan, belum ada pengembang properti yang secara khusus membuat konsep rukotel.

"Kalaupun ada, itu karena rukonya diubah menjadi hotel. Konsep awalnya memang ruko, namun diubah menjadi hotel," ujar Theresia. Lebih lanjut dia bilang, konsep rukotel biasanya dibuat untuk hotel bisnis bintang dua ke bawah.

Senada, Jhonnie pun bilang, beberapa pemilik ruko mengembangkan bangunan yang dimilikinya menjadi hotel. Sehingga teciptalah bentuk hotel di bagian atas, sementara di bawah hotel merupakan toko ritel modern seperti Alfamart atau kafe.

Menurut Jhonnie, rukotel lebih banyak dikembangkan oleh kelompok individu, sementara secara korporasi, baru Alfamart yang mulai menjurus ke arah sana. Konsep rukotel sendiri sebenarnya dikembangkan oleh pengembang daerah yang membangun komplek ruko sekitar 100 unit dan kemudian mengambil sekitar lima sampai enam unitnya untuk dijadikan hotel di lantai 2 atau lantai 3. Sementara itu, di lantai 1 dijadikan kafe atau supermarket. 

Menyangkut perizianan, pengembangan hotel dari konsep ruko sudah diatur dalam aturan yang mengatur kelompok hotel non bintang. Jhonnie mencontohkan, di Jakarta ada beberapa ruko yang akhirnya berubah menjadi hotel, seperti di kawasan Daan Mogot dan Grogol. 

Aleviery Akbar, Associate Director Residential Sales & Leasing Colliers Indonesia menambahkan, bisnis rukotel akan berkembang ketika pengembang mendapat lokasi yang cukup strategis. 

"Tren rukotel lebih marak dijumpai di lokasi - lokasi yang menjadi pusat bisnis," ujar Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Steve Sudjianto. 


Tag


TERBARU

Close [X]
×