kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45967,72   22,97   2.43%
  • EMAS923.000 0,65%
  • RD.SAHAM 0.78%
  • RD.CAMPURAN 0.49%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Wereng tak susutkan pasar benih padi hibrida


Kamis, 23 September 2010 / 09:26 WIB
Wereng tak susutkan pasar benih padi hibrida

Berita Terkait

Reporter: Raka Mahesa W |

JAKARTA. Para pakar pertanian boleh saja menuding padi hibrida lebih rentan terhadap serangan hama wereng. Namun, kenyatannya, tudingan terebut belum menggoyahkan pasar benih padi hibrida.

Ketua Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Elda D. Adiningrat, mengatakan, wabah wereng belum berpengaruh terhadap penjualan benih padi hibrida. "Tidak ada hubungannya antara wereng dan benih hibrida," tepis Elda, Selasa (21/9).

Bahkan, menurut Elda, bisnis bibit padi tahun ini justru bagus. Pasalnya, pola tanam yang berubah akibat hujan berkepanjangan justru memacu peningkatan permintaan bibit padi, baik bibit padi hibrida maupun non hibrida. "Kami melihat ada kenaikan sekitar 10%-20%, untuk serapan benih hibrida dan nonhibrida," kata Elda.

PT Sumber Alam Sutera, salah satu produsen benih hibrida adalah salah satu perusahaan yang menikmati berkah kenaikan penjualan tersebut. "Penjualan kami naik karena adanya perubahan pola tanam petani," kata Siten Pelawi, Sekretaris Perusahaan Sumber Alam. Sayang, Siten masih bungkam soal besaran angka kenaikan tersebut.

Luas tanam padi tahun ini memang naik, diantaranya juga karena adanya tanam padi ulang setelah diserang wereng. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas tanam padi tahun ini naik dari 12,25 juta hektare menjadi 13,08 juta hektare.

Namun demikian, Siten mengakui, padi hibrida relatif rentan terhadap serangan wereng. Hanya, risiko wereng ini bisa dikurangi dengan dosis pemupukan dan pestisida pembasmi hama yang benar. Maka, berdasarkan pantauan 110 penyuluh yang disebar Sumber Alam, Siten mengklaim areal sawah pengguna benih hibrida keluaran Sumber Alam terbebas dari serangan wereng.

Sumardjo Gatot Irianto, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian juga memastikan, padi hibrida bukan penyebab kenaikan serangan wereng. "Iklim yang berubah membuat pola tanam berubah, ini yang menyebabkan siklus wereng tak putus," ujarnya.

Data Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan mencatat, sepanjang Januari hingga Agustus 2010, luas serangan wereng sudah mencapai 105.375 hektare, naik 351,26% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 23.351 hektare. Dari jumlah itu, sawah yang mengalami gagal panen (puso) berjumlah 4.161 hektare, melonjak 607,65% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Gatot mengakui, pemerintah mengalami kesulitan untuk memutus siklus wereng, karena tidak bisa memaksa petani menghentikan penanaman padi. Padahal, "Idealnya terjadi putus siklus satu musim," cetus Gatot.


DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×