: WIB    --   
indikator  I  

2017, MLIA hanya anggarkan capex Rp 200 miliar

2017, MLIA hanya anggarkan capex Rp 200 miliar

JAKARTA. Untuk tahun ini, PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) hanya menganggarkan capital expenditure di kisaran Rp 180 miliar-Rp 200 miliar. Dana tersebut lebih banyak diserap untuk perbaikan tungku api dan sisanya peremajaan mesin.

“Kami ingin efisiensi ditingkatkan agar cost bisa turun,” kata Sekretaris Perusahaan PT Mulia Industrindo Tbk Henry Bun dalam paparan publik, Jakarta (19/6).

Asal tahu saja, gas menjadi energi utama keperluan pabrik MLIA, sekaligus menelan biaya yang besar. Kata Henry, hampir 25%-28% biaya produksi adalah keperluan gas. Sementara harga gas yang harus ditanggung MLIA adalah US$ 8,3-US$ 9 per mmbtu. Menurutnya, harga gas ini cukup mahal dan tidak kompetitif.

“Khususnya untuk pasar ekspor, seperti kaca kami 40%-nya dijual ke luar negeri. Jika dibandingkan industri negara tetangga Malaysia yang lebih murah, tentu kami kalah saing,” terang Henry.

Sebagai perbandingan, saat ini, harga gas industri Malaysia berada di kisaran US$ 5-US$ 6 per mmbtu. Henry berharap, perusahaannya bisa mendapatkan harga gas yang mirip dengan Malaysia. Sebab, harga tersebut bisa menekan ongkos produksi sebesar 7%.

Secara volume, di 2016 penjualan produk MLIA cenderung positif. Kaca lembaran, misalnya, di 2016 terjual 503,9 ribu ton atau naik 5% dibanding tahun lalu. Lalu produk botol kemasan tumbuh 9%, dari 120,8 ribu ton menjadi 131,2 ribu ton. Sementara keramik turun tipis 0,6% menjadi 77,9 juta meter persegi


Reporter Agung Hidayat
Editor Barratut Taqiyyah Rafie

MANUFAKTUR

Feedback   ↑ x
Close [X]