: WIB    —   
indikator  I  

Kebangkitan ponsel jadul?

Kebangkitan ponsel jadul?

Produsen telepon seluler (ponsel) di Silicon Valley dan Seoul beberapa tahun terakhir mendikte selera pasar global dengan ponsel pintar atau smartphone ciptaan mereka. Tapi, kolumnis Bloomberg Adam Minter meramalkan, tak lama lagi tren ini mungkin berakhir. Pengguna ponsel di pasar berkembang akan menjadi penentu tren.

Tentu Minter bukan asal bicara. Tahun lalu, terlihat jelas pemasaran smartphone menghadapi tantangan dari generasi baru feature phone. Betul. Anda tidak salah, kok. Ini jenis ponsel berlayar sempit dan cuma berfungsi untuk telepon dan kirim pesan singkat (SMS). Mirip Nokia atau Motorola yang dulu sekali mungkin Anda pernah punya.

Masih tidak percaya? Ada data menarik, nih. Setelah selama bertahun-tahun penjualan terus turun, penjualan ponsel fitur tumbuh dalam dua kuartal berturut-turut. Pertumbuhan paling mengesankan terjadi di pasar negara berkembang. Di Afrika, pengapalan ponsel fitur melonjak 32% pada kuartal kedua 2016 dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Ada beberapa alasan, tren ini diperkirakan akan berlanjut, terutama di negara berkembang.

Pertama, alasan harga. Pada akhir 2016, harga ponsel pintar di pasar global rata-rata US$ 256 versus US$ 19,3 untuk ponsel fitur. Bagi warga negara berkembang yang umumnya berpenghasilan kurang dari US$ 10.000 per tahun, tentu perbedaaan harga ini sangat mempengaruhi pertimbangan mereka dalam membeli barang. (Di India, penduduk yang cukup berpendidikan pun hanya berpenghasilan rata-rata US$ 5.385 per tahun.) Bahkan, sekali pun bisa menyisihkan US$ 256, mereka mungkin lebih memilih untuk membeli barang bekas berteknologi tinggi lainnya. Di Ghana, uang sama sama bisa untuk membeli satu komputer desktop bekas Pentium III plus layar datar, satu kotak decoder dan cakram satelit untuk membajak siaran televisi satelit.

Kedua, alasan daya tahan baterai. Baterai ponsel pintar umumnya perlu diisi ulang setiap hari. Bandingkan dengan ponsel fitur, yang bisa tahan berhari-hari untuk setiap kali pengisian. Bagi negara yang ketersediaan listriknya terbatas, faktor ini tentu penting. Di Afrika Barat, misalnya, mereka yang bahkan sudah punya ponsel pintar pun biasanya membawa ponsel fitur sebagai cadangan agar masih bisa berkomunikasi meski ponsel pintar mati.

Ketiga, hemat pulsa. Umumnya pengguna ponsel pintar di negara berkembang berlangganan paket data dan komunikasi suara secara prabayar. Akibatnya, meski sedang tidak aktif, jatah bandwidth kerap terpakai. Tentu saja, ini menyebalkan.

Keempat, ponsel fitur generasi baru hadir dengan sejumlah inovasi, baik dari sisi perangkat keras maupun layanan. Contohnya, iTel dari China memperkenalkan sistem speech-to-text, yang mengubah suara dalam bentuk teks. Lalu, Zync asal India meluncurkan enam ponsel fitur baru yang memiliki banyak slot kartu SIM. Dus, pengguna bisa memasang kartu dari beberapa provider sekaligus, sehingga bisa berhemat saat menelepon. Ya, seperti Anda tahu, biaya menelepon ke nomor dari provider yang sama lebih murah dibanding ke nomor dari provider lain. Selain iTel dan Zync, Reliance Jio Infocomm dikabarkan akan meluncurkan ponsel fitur dengan harga kurang dari US$ 20, yang memungkinkan telepon gratis lewat jaringan LTE. 

Namun, inovasi yang dianggap paling penting adalah sistem pembayaran mobile yang tertanam di ponsel fitur. Cukup dengan mengisi pulsa, pengguna ponsel fitur bisa saling mengirim dana hanya lewat SMS. Bagi sekitar 2 miliar orang yang hingga saat ini tak terjangkau layanan finansial, inovasi ini tentu bisa mengubah kehidupan mereka. M-Pesa dari Kenya mencatat sekitar 19 juta penggunanya mentransfer lebih dari US$ 140 juta per hari via SMS.

Nah, jadi, produsen smartphone, bersiaplah menghadapi perlawanan baru. Sebab, ternyata, teknologi yang telah lama ditinggalkan ini masih enggan mati. Beberapa analis malah memperkirakan, penjualan smartphone akan turun tahun ini.


SUMBER : Bloomberg
Editor Asih Kirana

TEKNOLOGI

Feedback   ↑ x
Close [X]