kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

AFI Sebut Waralaba di Indonesia Masih Dikuasai Asing


Jumat, 29 Agustus 2025 / 17:11 WIB
AFI Sebut Waralaba di Indonesia Masih Dikuasai Asing
ILUSTRASI. Pengunjung melihat produk yang dipamerkan dalam pameran Indonesia Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) 2022 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (3/6/2022).ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan. Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menyoroti dominasi merek asing dalam bisnis waralaba di Tanah Air. ?


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menyoroti dominasi merek asing dalam bisnis waralaba di Tanah Air. 

Ketua Umum AFI, Anang Sukandar, menyebut jumlah waralaba lokal yang terdaftar masih sangat terbatas, hanya sekitar 120–130 brand, jauh lebih sedikit dibandingkan waralaba asing yang beroperasi di Indonesia.

“Memang kita nggak terlalu happy dengan keadaan ini. Secara estimasi, pasar domestik masih dikuasai oleh asing. Dari China, Jepang, Korea, sampai Italia ada di pusat perbelanjaan kita, sementara merek Indonesia bisa dihitung jari,” ujar Anang dalam pembukaan pameran International Franchise, License & Business Concept Expo & Conference (IFRA) di Jakarta, Jumat (29/8/2025).

Baca Juga: Bisnis Waralaba Dinilai jadi Jalan Cepat Tumbuhkan Entrepreneur

Ia mencontohkan, di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, mayoritas restoran dan gerai justru berasal dari luar negeri. 

“Di Gandaria City, coba lihat. Ada brand Korea, Jepang, China, Belanda, Italia. Indonesia cuma satu, Remboelan. Kenapa tidak 80% yang hadir justru merek lokal, dari Banda Aceh sampai Manado?” tambahnya.

Menurut Anang, kondisi ini menunjukkan brand lokal masih kalah agresif dalam menggarap potensi pasar waralaba nasional. 

Padahal, waralaba bisa menjadi jalan cepat untuk menumbuhkan wirausaha baru sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia.

AFI menilai dominasi asing ini seharusnya menjadi alarm bagi pelaku usaha domestik untuk lebih berani mengembangkan konsep waralaba. 

Penguatan merek lokal perlu didukung melalui standarisasi, inovasi, dan manajemen yang profesional agar dapat bersaing dengan brand global.

“Kenapa kita mengadakan standardisasi? Karena kita harus berulang kali melakukan standardisasi supaya mencapai efisiensi dan efektivitas tertinggi. Tentunya harus ada inovasi, dan kita juga harus mencari teknologi yang tepat,” jelas Anang.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keunikan atau ciri khas produk lokal menjadi modal penting dalam persaingan waralaba. 

Ia mencontohkan Teh Botol Sosro yang berhasil memanfaatkan budaya minum teh masyarakat Indonesia, sehingga bisa bersaing dengan merek minuman ringan global seperti Coca-Cola.

“Keunikan itu harus tetap ada. Di samping itu, sistem manajemen juga tidak kalah penting. Tanpa manajemen yang solid, waralaba tidak akan berkembang,” pungkasnya.

Baca Juga: AFI dan Dyandra Siap Gelar IFRA 2025, Dorong Pertumbuhan Waralaba & Lisensi

Selanjutnya: Okupansi Mal Diprediksi Cuma 87% hingga Akhir Tahun

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Besok Sabtu 30 Agustus 2025: Keuangan & Karier Leo Paling Beruntung

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×