Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai bisnis waralaba memiliki prospek cerah sebagai motor pertumbuhan kewirausahaan di Indonesia.
Pasalnya, model bisnis ini relatif lebih mudah dijalankan karena sudah teruji, memiliki standar operasional yang jelas, serta dipercaya konsumen.
"Kalau ingin menjadi negara maju, rasio kewirausahaan kita harus meningkat. Saat ini baru 3,1%, sedangkan standar negara maju ada di kisaran 10–12%,” ujarnya dalam pembukaan pameran International Franchise, License & Business Concept Expo & Conference (IFRA) di Jakarta, Jumat (29/8/2025).
Menurutnya, waralaba bisa menjadi jalan yang lebih cepat bagi anak-anak muda untuk menjadi entrepreneur.
Baca Juga: Waralaba Pendidikan dan Gaya Hidup Mulai Dilirik Investor
Ia menjelaskan, setiap perusahaan yang mewaralabakan usahanya wajib memenuhi syarat ketat yang terus dievaluasi pemerintah.
Dengan demikian, para pelaku usaha muda tidak perlu ragu memilih merek waralaba yang sudah terdaftar.
“Biayanya justru lebih murah karena manajemennya sudah jelas dan model bisnisnya teruji,” kata Budi.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, hingga Juli 2025 terdapat 163 surat tanda pendaftaran waralaba (STPW) dalam negeri dan 155 dari luar negeri.
Meski tren penerbitan STPW sempat naik pada 2020–2022 dan mencapai puncaknya di 2022 dengan 27 penerbitan, laju ekspansi waralaba mulai melambat sejak 2023. Hingga pertengahan 2025, baru tercatat 10 penerbitan baru.
Kendati demikian, waralaba tetap dianggap sebagai pintu masuk strategis untuk mendorong rasio kewirausahaan.
Data menunjukkan mayoritas penerbit waralaba berasal dari dalam negeri, terutama di Pulau Jawa dengan dominasi Jakarta.
Adapun waralaba asing tetap konsisten masuk, mayoritas dari Amerika Serikat, Singapura, dan Jepang.
Lebih lanjut, waralaba lokal didominasi sektor makanan-minuman, ritel, laundry, pendidikan non-formal, dan jasa kecantikan.
Sementara itu, waralaba asing umumnya bergerak di bidang makanan-minuman, hotel, ritel, serta pendidikan non-formal.
Budi menambahkan, potensi waralaba tidak hanya terbuka di dalam negeri tetapi juga di pasar global. Beberapa merek lokal sudah berhasil berekspansi ke Filipina, Bangladesh, dan sejumlah negara lain.
Pemerintah juga aktif mendorong penetrasi pasar luar negeri dengan memanfaatkan perwakilan dagang di 33 negara serta program business matching yang mempertemukan UMKM dan pemilik waralaba dengan mitra potensial.
Hasilnya, pada semester I-2025 program business matching menghasilkan transaksi senilai US$ 90,04 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun, dengan 70% di antaranya berasal dari UMKM yang sebelumnya belum pernah ekspor.
“Waralaba restoran bisa jadi pintu promosi produk Indonesia ke mancanegara, karena bukan hanya menjual makanan, tetapi juga budaya, pariwisata, dan produk turunan seperti rempah,” jelas Budi.
Baca Juga: Mendag Busan Ajak Perkuat Merek Lokal melalui Lisensi dan Waralaba
Selanjutnya: Penggunanya Terus Tumbuh, Intip Perkembangan Transaksi QRIS Tap di Sejumlah Bank
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Besok Sabtu 30 Agustus 2025: Keuangan & Karier Leo Paling Beruntung
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News