kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.970   57,00   0,32%
  • IDX 5.707   63,87   1,13%
  • KOMPAS100 737   8,83   1,21%
  • LQ45 560   6,62   1,20%
  • ISSI 199   2,00   1,02%
  • IDX30 317   3,05   0,97%
  • IDXHIDIV20 391   1,68   0,43%
  • IDX80 84   0,91   1,10%
  • IDXV30 107   -0,06   -0,06%
  • IDXQ30 103   0,76   0,75%

Anak usaha PLN uji coba bahan bakar sampah di PLTU Lontar


Rabu, 28 April 2021 / 23:03 WIB
ILUSTRASI. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Extension 1x315MW saat pembangunan, di Desa Lontar, Tangerang, Banten, Jumat (29/3/2019)


Reporter: Muhammad Julian | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PLN melalui anak usahanya, PT Indonesia Power (IP), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tangerang melakukan pengembangan pemanfaatan jumputan padat hasil olahan dari sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Kota Tangerang.

Dalam kerja sama tersebut, jumputan padat olahan hasil olahan sampah yang didapat bakal digunakan sebagai biomassa pengganti batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar.

“Dalam key performance indicator korporat itu ada co-firing, artinya program ini harus dilaksanakan tahun ini sampai seterusnya nanti, dan saya sebagai dewan komisaris ingin memastikan langsung ke pilot nya yaitu di Tangerang ini,” ungkap Komisaris Utama PLN, Amien Sunaryadi saat melakukan kunjungan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing di Kota Tangerang, Rabu (28/04) sebagaimana dikutip dari siaran pers.

Baca Juga: Wow, selain dapat harga US$ 10,15 cent per kWh, pengembang PLTS bakal dapat insentif

Bahan bakar jumputan padat adalah bahan bakar berasal dari limbah (sampah) yang telah melalui proses pemilahan dan homogenisasi menjadi ukuran butiran kecil atau dibentuk menjadi pelet. Nantinya, butiran kecil atau pelet inilah yang bakal digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Proses pengolahan jumputan memanfaatkan teknologi biodrying atau melalui teknologi maggot. Catatan saja, teknologi biodrying adalah dekomposisi zat organik secara parsial dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan oleh mikroorganisme dibantu aerasi untuk menghilangkan kelembapan.

Sementara itu, teknologi maggot adalah dekomposisi zat organik dengan memanfaatkan belatung lalat Black Soldier Fly (BSF).

Melalui kerja sama ini, sampah di TPA Rawa Kucing bakal diolah menjadi biomassa substitusi batu bara sebagai bahan bakar PLTU melalui proses-proses di atas.




TERBARU

[X]
×