Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti ketegangan geo-politik setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS). Meski dampak terhadap Indonesia relatif terbatas, tapi Apindo meminta pengusaha tetap memasang sikap waspada.
Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani menegaskan bahwa ketegangan antara AS dengan Venezuela mesti dicermati serius, namun tetap harus ditempatkan secara proporsional. Secara struktur, hubungan perdagangan Indonesia - Venezuela masih relatif kecil dalam konteks total perdagangan nasional.
Namun, dalam dua tahun terakhir tren menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat, terutama dari sisi ekspor Indonesia. Shinta menyitir data total perdagangan Indonesia - Venezuela pada tahun 2024 tercatat sekitar US$ 69,2 juta, dengan tren pertumbuhan 25,4% pada periode 2020-2024.
Baca Juga: Kolaborasi JAST & Kemendikdasmen: Layanan 177 Diperpanjang 2026
Sementara pada periode Januari - Oktober 2025, nilai perdagangan tercatat sebesar US$ 82,7 juta atau tumbuh 44,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh lonjakan ekspor Indonesia ke Venezuela.
Shinta membeberkan, ekspor Indonesia melonjak sekitar 76% dari US$ 27,7 juta pada 2023 menjadi US$ 48,8 juta pada 2024. Ekspor Indonesia ke Venezuela kembali mendaki pada Januari - Oktober 2025 menjadi US$ 68,7 juta, atau naik 80,25% secara tahunan.
Meski begitu, posisi Venezuela dalam peta ekspor Indonesia masih tergolong minor. Pada tahun 2024, Venezuela berada di peringkat ke-108 dari 201 negara tujuan ekspor Indonesia, dengan pangsa pasar hanya sekitar 0,02% dari total ekspor nasional.
Di kawasan Amerika Latin dan Karibia, Venezuela menempati peringkat ke-17 dari sekitar 33 negara, atau hanya mewakili sekitar 1,6% pangsa ekspor Indonesia ke kawasan tersebut. "Data ini menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekspor ke Venezuela cukup tinggi, kontribusinya terhadap kinerja ekspor nasional secara keseluruhan masih sangat terbatas," kata Shinta kepada Kontan.co.id, Senin (5/1/2026).
Adapun, komoditas ekspor utama Indonesia ke Venezuela didominasi oleh produk manufaktur dan barang konsumsi seperti sabun dan preparat pembersih, kendaraan dan bagiannya, serat stapel buatan, pakaian jadi non-rajutan, serta kertas dan karton.
Baca Juga: Harbolnas 2025: Live Shopping Dominasi Belanja Online Konsumen
Sementara dari sisi impor, nilainya relatif terbatas, yakni sekitar US$ 20,3 juta pada 2024. Nilai impor menurun menjadi sekitar US$ 14 juta pada Januari-Oktober 2025. Impor terutama berupa kakao/cokelat dan sayuran, dengan kontribusi yang sangat kecil terhadap kebutuhan nasional.
Meski dampak langsung terhadap perdagangan dan investasi Indonesia masih terbatas, tapi Apindo mengingatkan ada beberapa risiko yang tetap perlu diantisipasi dari ketegangan geo-politik di awal tahun ini. Pertama, eskalasi konflik berpotensi menahan laju ekspor Indonesia ke Venezuela, mengingat pertumbuhan ekspor yang tinggi dalam dua tahun terakhir bergantung pada stabilitas ekonomi dan daya beli di Venezuela.
Kedua, dari sisi impor, terdapat risiko sektoral tertentu. Misalnya pada komoditas kakao, yang meskipun nilainya kecil secara agregat, perlu dimitigasi oleh pelaku usaha terkait melalui diversifikasi sumber pasokan.
Selain dampak langsung, dunia usaha juga mencermati risiko tidak langsung melalui sentimen global. Eskalasi geo-politik berpotensi memperburuk ketidakpastian global, meningkatkan volatilitas harga energi dan komoditas, serta memengaruhi biaya logistik, pembiayaan, dan transaksi internasional.
Dalam konteks energi, dunia usaha mencermati potensi dampak lanjutan terhadap harga energi dan biaya produksi, yang apabila berlangsung berkepanjangan dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Dengan begitu, stabilitas makro ekonomi dan koordinasi kebijakan akan menjadi kunci.
Menghadapi situasi tersebut, Apindo mendorong langkah-langkah antisipatif. Antara lain melalui diversifikasi pasar ekspor dan sumber impor, penguatan manajemen risiko rantai pasok, serta peningkatan efisiensi dan daya saing industri domestik.
Baca Juga: Ini Detail Aturan RKAB 2026: Kementerian ESDM Izinkan Operasi Tambang hingga 31 Maret
"Dunia usaha juga berharap agar pemerintah terus menjaga stabilitas makro ekonomi, kelancaran sistem pembayaran internasional, serta memperkuat diplomasi ekonomi agar kepentingan perdagangan dan investasi Indonesia tetap terlindungi," tegas Shinta.
Shinta menekankan bahwa dunia usaha akan terus memonitor perkembangan serta eskalasi geo-politik global. Apindo berharap dinamika yang terjadi tidak semakin menambah ketidakpastian dan volatilitas perekonomian global.
"Secara keseluruhan, kami memandang bahwa meskipun ketegangan AS-Venezuela perlu diwaspadai, eksposur langsung saat ini relatif terbatas, dan risiko yang ada masih dapat dikelola melalui koordinasi kebijakan yang baik serta kesiapan dunia usaha," tutup Shinta.
Selanjutnya: Bursa Eropa Menguat, Saham Pertahanan Melonjak Usai Ketegangan Venezuela
Menarik Dibaca: Ramalan 12 Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 6 Januari 2026, Harus Cermat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













