kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   40.000   1,50%
  • USD/IDR 16.993   76,00   0,45%
  • IDX 9.134   58,47   0,64%
  • KOMPAS100 1.263   7,36   0,59%
  • LQ45 893   3,69   0,41%
  • ISSI 334   4,00   1,21%
  • IDX30 455   2,66   0,59%
  • IDXHIDIV20 538   4,37   0,82%
  • IDX80 141   0,76   0,54%
  • IDXV30 149   1,74   1,18%
  • IDXQ30 146   0,65   0,45%

Apindo Nilai Perang Dagang AS–China Buka Peluang Baru bagi Ekspor Indonesia


Senin, 20 Oktober 2025 / 16:25 WIB
Apindo Nilai Perang Dagang AS–China Buka Peluang Baru bagi Ekspor Indonesia
ILUSTRASI. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani di Jakarta (2/4/2025). Apindo menilai bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dengan China memiliki efek dua sisi bagi perekonomian nasional.


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun 2025 diwarnai dengan memanasnya kembali perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Ketegangan perdagangan dua raksasa ekonomi dunia tersebut tak hanya mengguncang rantai pasok global, tetapi juga membawa dampak langsung bagi dunia usaha di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, menilai bahwa kondisi ini memiliki efek dua sisi bagi perekonomian nasional. Di satu sisi, perang dagang bisa menekan ekspor Indonesia, namun di sisi lain justru membuka peluang baru bagi produk dalam negeri untuk masuk ke pasar global yang tengah bergeser.

“Kalau kita lihat memang di satu sisi pengaruhnya ke ekspor kita tentu ada. Tapi di sisi lain, perang dagang ini juga banyak membuka peluang yang bisa kita manfaatkan. Tinggal bagaimana kesiapan Indonesia untuk mengambil pasar yang terdampak,” ujar Shinta saat ditemui di Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Baca Juga: Urusan Pajak & Cukai Dipersulit? Lapor Langsung Ke Menkeu Purbaya di Nomor Ini

Menurutnya, ketegangan antara dua negara tersebut menyebabkan banyak perusahaan global mencari alternatif sumber produksi dan mitra dagang baru di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini bisa dimanfaatkan Indonesia untuk memperluas kapasitas produksi dan menjangkau pasar baru yang sebelumnya dikuasai China.

“Dengan adanya perang dagang, negara-negara lain terdampak, dan dari situ kita bisa membuka peluang produksi serta ekspor baru. Jadi sebenarnya banyak peluang, asalkan kita siap,” jelasnya.

Namun demikian, Shinta mengingatkan agar Indonesia tidak lengah terhadap potensi banjir produk impor murah, terutama dari China, yang gagal menembus pasar Amerika Serikat akibat kenaikan tarif.

“Kalau produk-produk Tiongkok tidak bisa diekspor ke Amerika karena tarif tinggi, bisa jadi pasar Indonesia terdampak oleh masuknya produk-produk murah. Jadi kita harus hati-hati. Mekanisme safeguard dan anti-dumping harus dijalankan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa proteksi perdagangan nasional perlu diperkuat agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi limpahan produk dari negara lain. Sebaliknya, situasi perang dagang ini semestinya dimanfaatkan untuk memperluas ekspor dan memperkuat basis industri dalam negeri.

“Jangan sampai kita justru jadi pasar. Ini momentum bagi Indonesia untuk mengambil peluang, sementara Amerika dan negara lain membuka ruang baru bagi produk kita,” tutup Shinta.

Baca Juga: Produksi Batubara PTBA Naik 9% pada Kuartal 3-2025, Cek Rekomendasi Sahamnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×