kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

APTRI: Ketimbang impor, pemerintah harus kerek produktivitas petani dan pabrik gula


Rabu, 29 Agustus 2018 / 20:04 WIB
ILUSTRASI. PETANI TEBU


Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengkritisi langkah pemerintah yang membuka keran impor gula. Menurut APTRI, ketimbang membuka keran impor gula industri dan rafinasi, seharusnya pemerintah fokus pada upaya peningkatan produktivitas petani tebu dan meningkatkan kualitas rendemen pabrik gula.

Ketua APTRI Soemitro Samadikoen menyampaikan, bila pemerintah ingin mencapai tujuan swasembada gula, seharusnya kualitas petani dan produksi pabrik gula harus ditingkatkan.

"Tingkatkan produktivitas tebu dengan mengganti tebu dengan kualitas yang lebih tinggi, saat ini (tinggi) tebu hanya dua meter, padahal ada yang empat meter," jelasnya.

Menurut Soemitro, langkah penelitian bisa ditempuh dengan memberdayakan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Tapi sayangnya P3GI kerap kesulitan melakukan penelitian karena tidak mendapatkan pembiayaan dari BUMN.

Kemudian untuk meningkatkan produksi gula, pabrik gula juga harus diperbaiki. Rendemen pabrik gula Indonesia sekitar 7% dan kalah jauh dari negara tetangga seperti Thailand yang mencapai 14%. 

Untuk menghadapi ini, Soemitro melihat pemerintah harus membangun pabrik baru dengan mesin yang lebih efisien dan baik, serta merevitalisasi pabrik-pabrik yang masih bisa didayakan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×