kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.345.000 -0,88%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Asosiasi Konsumen Dukung BRIN Riset Produk Tembakau Alternatif


Selasa, 14 Februari 2023 / 15:38 WIB
Asosiasi Konsumen Dukung BRIN Riset Produk Tembakau Alternatif
ILUSTRASI. Suasana gerai penjualan rokok elektrik di Depok, Jawa Barat,


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - ​JAKARTA. Asosiasi konsumen mendukung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melakukan riset dan kajian ilmiah untuk meneliti produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, maupun kantong nikotin.

Dukungan ini muncul karena belum ada penelitian menyeluruh yang dilakukan pemerintah bagi produk hasil pengembangan inovasi dan teknologi ini.

Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo) Paido Siahaan mengatakan, produk tembakau alternatif telah terbukti berdasarkan kajian ilmiah memiliki profil risiko yang lebih rendah. Dengan keunggulan tersebut, produk ini menjadi solusi alternatif bagi perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti merokok.

Fakta ini ditemukan oleh riset-riset lembaga pemerintah berbagai negara, tapi Indonesia belum meneliti. Sangat disayangkan, pemerintah belum juga meriset produk ini. Kajian ilmiah terhadap produk tembakau alternatif baru dilakukan di level perguruan tinggi.

Baca Juga: Tolak Revisi PP 109/2012, Gappri Minta Pemerintah Fokus Jaga Iklim Usaha IHT

“Setahu kami, pemerintah belum pernah melakukan kajian ilmiah terhadap produk tembakau alternatif. Mudah-mudahan, pemerintah dalam hal ini, BRIN, dapat melakukan kajian ilmiah dan bekerja sama dengan Akvindo,” kata Paido dalam keterangannya, Selasa (14/2).

Maka, Akvindo siap berkolaborasi. Harapannya, Paido melanjutkan, hasil kajian ilmiah yang dilakukan pemerintah dapat menjadi sumber informasi yang komprehensif bagi masyarakat luas, khususnya para perokok dewasa.

Sebab, sampai saat ini masih berkembang informasi yang keliru mengenai produk tembakau alternatif. “Minimnya informasi dari kajian ilmiah dapat menghalangi perokok dewasa untuk beralih ke produk tembakau yang lebih rendah risiko bagi mereka,” tegas Paido.

Di kesempatan berbeda, Ketua Aliansi Vaper Indonesia (AVI), Johan Sumantri, juga mendukung adanya riset yang dilakukan pemerintah. Tujuannya agar konsumen mengetahui secara menyeluruh manfaat hingga dampak dari konsumsi produk tembakau alternatif.

“Mereka bisa menilai dengan adil keberadaan produk ini. Sebenarnya tidak hanya penting bagi konsumen, riset juga penting untuk masyarakat secara umum, terutama perokok dewasa yang ingin mencoba berhenti merokok,” ucapnya.

Baca Juga: Singapura & Thailand Larang Vape, Simak Bahaya Asap Vape Bagi Kesehatan

Selain sebagai sumber informasi, hasil penelitian tersebut juga dapat menjadi referensi dalam pembuatan kebijakan. Dengan begitu, pemerintah menghadirkan regulasi yang berbasiskan profil risiko bagi produk tembakau alternatif.

“Selama ini sudah banyak penelitian dari akademisi maupun independen terkait produk tembakau alternatif namun belum ada yang digunakan pemerintah sebagai referensi,” kata Johan.

Menanggapi hal ini, Dr. Dwinita Wikan Utami, Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN mengatakan, kajian ilmiah terkait produk tembakau alternatif masih sedikit.

Secara paralel, lanjut Dwinita, ia mengapresiasi akademisi dari berbagai universitas yang sudah mulai menggencarkan kajian ilmiah produk tembakau alternatif. “Kita perlu meningkatkan kajian atau riset karena masalah tembakau itu penting,” paparnya.

Dwinita meneruskan, kolaborasi dengan para akademisi di berbagai universitas juga perlu ditingkatkan lagi sehingga tercipta keterbukaan informasi dan meninjau sejauh mana kajian ilmiah produk tembakau alternatif dilakukan.

“Dengan kolaborasi, jadi ada sharing session dengan public research kami untuk saling memberi informasi sebagai ajang komunikasi dan diskusi. Sehingga, peluang kerja sama terkait penguatan risetnya bisa terbuka,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×