Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) menilai belum ada lonjakan permintaan masker yang signifikan dari industri alat kesehatan setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sekretaris Jenderal ASPAKI Erwin Hermanto mengatakan, aktivitas produsen masker hingga saat ini masih berjalan normal. Menurut dia, industri belum mengamati adanya peningkatan permintaan yang berarti.
"Produsen belum mengamati peningkatan yang signifikan. Saat ini semua aktivitas produsen masih berjalan normal," kata Erwin kepada Kontan.co.id, Senin (7/9).
Baca Juga: Prospek Bisnis Cold Chain Menjanjikan, BLOG Bidik Peluang di Indonesia Timur
Sebelumnya, sejumlah produsen masker di kanal online disebut mengalami kehabisan stok seiring meningkatnya permintaan masyarakat setelah erupsi Gunung Anak Krakatau. Kondisi tersebut diduga turut dipengaruhi oleh aksi panic buying.
Namun, ASPAKI menilai kondisi ini masih bersifat sementara. Berdasarkan pengamatan asosiasi, aktivitas produsen masker belum mengalami peningkatan.
"Aktivitas produsen masih berjalan normal belum ada peningkatan. Menurut pengamatan kami ini hanya bersifat sesaat," ujarnya.
Erwin juga menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak fenomena tersebut terhadap penjualan maupun omzet industri alat kesehatan, khususnya produsen masker.
"Pandangan kami ini hanya fenomena sesaat dan cakupannya pun tidak global seperti Covid-19 sehingga berdampak terhadap pasokan bahan baku masker," jelas Erwin.
Dengan demikian, ASPAKI melihat peningkatan permintaan masker yang terjadi saat ini belum menjadi indikasi adanya perubahan fundamental pada kondisi industri alat kesehatan. Erwin menegaskan fenomena tersebut diperkirakan hanya berlangsung sementara.
Di sisi lain, ASPAKI menilai prospek industri alat kesehatan pada paruh kedua 2026 masih menghadapi tantangan. Salah satunya berasal dari pengurangan anggaran belanja kesehatan di daerah serta pemusatan belanja kesehatan di pemerintah pusat.
"Saat ini kondisi industri alat kesehatan cukup sulit dengan pengurangan anggaran belanja kesehatan di daerah yg cukup signifikan dan pemusatan belanja kesehatan di pusat. Kita belum melihat adanya indikasi perubahan yang berarti di paruh kedua 2026," pungkas Erwin.
Baca Juga: OMED Optimistis Kinerja Penjualan pada Semester II-2026 Tumbuh Lebih Kuat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














