kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Aspermigas sarankan pemerintah lakukan terobosan positif di sektor energi


Jumat, 25 Oktober 2019 / 20:34 WIB
Aspermigas sarankan pemerintah lakukan terobosan positif di sektor energi
ILUSTRASI. Pertamina Hulu Mahakam lakukan pengeboran Blok Mahakam demi tekan penurunan produksi

Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Perusahaan Migas Indonesia (Aspermigas) menilai tantangan yang dihadapi sektor energi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan tidak mudah. Diperlukan sejumlah langkah terobosan positif dari pemerintah agar kebutuhan energi di dalam negeri dapat terpenuhi.

Ketua Umum Aspermigas John S. Karamoy menyampaikan, kebutuhan energi di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 224 juta ton setara minyak. Dari angka tersebut, 94 juta ton di antaranya merupakan minyak bumi. Belum cukup, Indonesia sudah mengimpor 53 juta ton minyak bumi di 2017 silam.

Di sisi lain, kebutuhan minyak bumi Indonesia di tahun 2025 mendatang diprediksi mencapai 100 juta ton. Jika produksi minyak bumi Indonesia di tahun 2025 sama dengan tahun 2017, yakni 41 juta ton, maka Indonesia akan mengimpor minyak bumi sebanyak 60 juta ton.

Baca Juga: Harga minyak dunia berada pada jalur kenaikan tertinggi mingguan

Adapun secara keseluruhan, kebutuhan energi nasional di tahun 2025 mendatang diproyeksikan menyentuh angka 400 juta ton setara minyak.

Lantas, tantangan terbesar di sektor produksi minyak bumi adalah mengurangi impor. “Hal ini hanya mungkin dapat terwujud melalui tambahan produksi dengan melakukan eksplorasi,” ungkap John dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Jumat (25/10).

Sementara itu, kebutuhan gas bumi dan batubara di tahun 2017 mencapai 117 juta ton. Sedangkan di tahun 2025 nanti, kebutuhan akan kedua energi tersebut ditaksir mencapai 208 juta ton.

Baca Juga: SKK Migas nilai perbaikan defisit neraca migas bukan perkara mudah

John menyebut, kenaikan kebutuhan gas bumi dan batubara masih bisa dipenuhi dengan mengandalkan produksi dalam negeri. Namun, tetap diperlukan huge investment.

Di sisi lain, kebutuhan energi baru dan terbarukan (EBT) tercatat sebesar 13 juta ton. Angka ini dapat naik 6 kali lipat menjadi 92 juta ton pada tahun 2025 nanti. “Pemanfaatan EBT yang diharapkan naik menjadi 6 kali lipat tentu memerlukan massive investment,” terang dia.

Dari situ, ia menilai, keperluan investasi eksplorasi minyak bumi, investasi untuk menaikkan produksi gas bumi dan batubara, hingga investasi untuk menaikkan pemanfaatan EBT sangat memerlukan regulasi-regulasi terobosan dari kementerian terkait.

Baca Juga: Diangkat jadi wamenlu, Jokowi berikan tiga tugas ini untuk Mahendra Siregar

Regulasi tersebut diharapkan dapat menarik dana investasi besar, baik berupa foreign direct investment (FDI) ataupun domestic direct investment (DDI), untuk sektor energi.

Pemerintah juga mesti menertibkan tambang-tambang liar di kawasan produksi energi, misalnya minyak bumi.

Tak hanya itu, Aspermigas juga menyarankan agar pemerintah mendorong proses nasionalisasi pengelolaan energi yang sebelumnya dilakukan oleh pihak asing.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×