kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.886   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.147   -46,20   -0,75%
  • KOMPAS100 792   -4,39   -0,55%
  • LQ45 606   -2,44   -0,40%
  • ISSI 215   -2,60   -1,20%
  • IDX30 336   -1,40   -0,42%
  • IDXHIDIV20 430   -1,07   -0,25%
  • IDX80 90   -0,46   -0,51%
  • IDXV30 117   -0,72   -0,61%
  • IDXQ30 110   -0,12   -0,11%

Bahlil Siapkan Strategi Jaga Harga Nikel di Tengah Lonjakan Permintaan Smelter


Rabu, 07 Oktober 2026 / 18:17 WIB
Bahlil Siapkan Strategi Jaga Harga Nikel di Tengah Lonjakan Permintaan Smelter
ILUSTRASI. Pemerintah menyiapkan strategi untuk mengendalikan produksi nikel agar pasokan komoditas tersebut tidak berlebihan di pasar global (Dok/Mind ID)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan strategi untuk mengendalikan produksi nikel agar pasokan komoditas tersebut tidak berlebihan di pasar global. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga harga nikel sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor pertambangan dan hilirisasi.

Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan, tingginya kebutuhan bahan baku dari industri pengolahan atau smelter tidak bisa menjadi satu-satunya pertimbangan dalam menentukan tingkat produksi nikel nasional.

Menurut Bahlil, pemerintah harus memperhatikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan (supply and demand) nikel di pasar global. Pemenuhan kebutuhan smelter yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi pasar justru berpotensi menciptakan oversupply dan menekan harga.

"Cara pandang kita itu begini, sekalipun kebutuhan smelter itu tinggi, tapi kita melihat produk akhirnya terhadap supply and demand global itu gimana? Kalau kita mengikuti terus permintaan smelter, itu harga kita pasti akan jatuh," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Baca Juga: Hilirisasi Silika ke Solar Cell Dinilai Prospektif, Tapi Masih Terkendala Bahan Baku

Bahlil mengungkapkan, pemerintah berencana mengatur tingkat produksi smelter guna mencegah terjadinya kelebihan pasokan nikel. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga harga komoditas mineral tetap optimal sehingga memberikan manfaat bagi negara maupun pelaku usaha.

"Karena itu ada namanya strategi, kalau harganya jatuh, pemerintahnya tidak mendapatkan pendapatan maksimal, pengusahanya juga tidak mendapatkan pengusahanya maksimal. Dan barang kita kan nggak boleh jual murah," ungkapnya.

Menurut Bahlil, pemerintah akan terus menghitung perkembangan harga nikel hingga akhir 2026. Ia menyatakan pemerintah tetap optimistis terhadap prospek harga nikel, namun tingkat produksi perlu disesuaikan dengan kondisi pasar.

"Kita maunya harus optimis tinggi. Kalau kita harganya tinggi, kita produksinya tinggi. Kalau harganya lagi anjlok, jangan kita juga banjir, nanti barang kita murah. Kita kan nggak mau barang kita dijual murah," pungkasnya.

Kapasitas Smelter Nikel Terus Bertambah

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin mengatakan kapasitas pengolahan nikel di Indonesia terus mengalami perkembangan.

Menurut Cecep, pemerintah telah melakukan verifikasi terhadap kapasitas smelter nikel yang akan dibangun. Namun, angka tersebut masih berpotensi bertambah seiring dengan berlanjutnya pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan.

Baca Juga: Erajaya Active (ERAL) Siapkan 10 Toko Baru di Akhir Tahun, Brand Baru Banyak Peminat

"Smelter saat ini terverifikasi bahwa yang akan terbangun untuk nikel itu di angka 320 jutaan (ton) yang kami dapatkan. Tapi memang itu masih berkembang dari tahun-ke tahun, dan masih beberapa smelter yang terus berprogres untuk dalam waktu dekat juga akan ada beberapa yang commissioning," ujarnya di BIG Downstream Insight 2026, Jakarta, Selasa (7/10/2026).

Cecep menjelaskan, pemerintah tidak serta-merta menyetujui seluruh permohonan kuota produksi yang diajukan badan usaha. Penetapan kuota mempertimbangkan berbagai aspek teknis, termasuk kecukupan cadangan riil dan rekam jejak produksi perusahaan tambang.

Evaluasi dilakukan secara berkala dengan melihat realisasi produksi pada setiap periode. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan apakah kebutuhan bahan baku smelter telah tercukupi atau masih diperlukan penyesuaian kuota.

"Untuk case nikel kita tetapkan di tahun 2026 awal kemarin itu di angka 260 juta ton sampai 270 juta ton. Kemudian secara siklusnya kita melihat dari Triwulan 1, Triwulan 2 berapa produksi yang tercapai dengan data itu kita bisa lihat apakah memang kebutuhan smelter itu tercukup atau tidak. Akhirnya kita berikan kesempatan terkait dengan untuk revisi di bulan Juli," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×