kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Bakal Impor 1 Juta Bioetanol dari AS, Apsendo Minta Kepastian Pasar Dalam Negeri


Minggu, 01 Maret 2026 / 20:39 WIB
Bakal Impor 1 Juta Bioetanol dari AS, Apsendo Minta Kepastian Pasar Dalam Negeri


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) resmi menandatangani Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART). Salah satu komoditas yang disepakati untuk diimpor Indonesia dari AS adalah bioetanol.

Dalam Annex III Article 2.23 tentang Bioethanol disebutkan, Indonesia tidak akan menerapkan aturan yang menghambat impor bioetanol asal AS.

“Indonesia tidak akan menerapkan atau mempertahankan tindakan apa pun yang mencegah impor bioetanol AS,” demikian tertulis dalam dokumen perjanjian tersebut.

Baca Juga: Pengamat ITB: Impor Bioetanol AS Perlu Standar Ketat dan Adaptasi Iklim Tropis

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Indonesia juga menyepakati implementasi program pencampuran bioetanol dalam bahan bakar, yakni E5 (campuran 5%) pada 2028 dan E10 (10%) pada 2030.

“Indonesia akan melaksanakan kebijakannya untuk memasok bahan bakar transportasi yang dicampur dengan bioetanol hingga lima persen (E5) pada tahun 2028 dan hingga 10 persen bioetanol (E10) pada tahun 2030,” bunyi dokumen itu.

Indonesia juga akan mengupayakan penerapan campuran hingga 20% (E20), dengan mempertimbangkan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur.

Tak hanya itu, dalam dokumen disebutkan Indonesia akan memastikan impor etanol asal AS melebihi 1.000 metrik ton per tahun.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Ini Daftar Maskapai yang Batalkan Penerbangan

APSENDO Minta Industri Domestik Dilindungi

Merespons kebijakan tersebut, Asosiasi Produsen Spiritus dan Ethanol Indonesia (APSENDO) meminta, pemerintah tetap menjaga keberlangsungan industri eksisting yang menggunakan tetes tebu domestik sebagai bahan baku.

Ketua APSENDO Izmirta Rachman menegaskan, impor seharusnya hanya untuk menutup kekurangan pasokan, bukan mematikan industri dalam negeri.

“Impor tujuannya adalah mengisi gap kekurangan suplai terkait program dan bukan mematikan eksisting industri, baik fuel grade maupun non fuel grade,” ujarnya.

Ia menambahkan, produsen domestik siap mendukung kebijakan pemerintah selama pasar eksisting tetap dijaga dan seluruh produksi dalam negeri terserap. Saat ini, kapasitas suplai produsen dalam negeri mencapai 70.500 kiloliter (kl) per tahun.

Menurutnya, jika ekosistem mendukung, pabrik yang sempat tidak beroperasi (dormant) berpotensi kembali aktif, termasuk melalui revitalisasi dan pembangunan fasilitas baru.

Baca Juga: Tarif Kopi ke AS 0%, Peluang Ekspor Menguat di Tengah Tantangan Produksi

ESDM: Impor Sementara hingga Swasembada

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut impor bioetanol sebagai bagian dari pengembangan energi bersih.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan impor diperbolehkan hingga produksi dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional.

“Namun sampai dengan produksi kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka ruang untuk kita melakukan impor boleh saja, termasuk diimpor dari Amerika,” ujarnya.

Dalam implementasinya, pengalihan sumber impor etanol akan memanfaatkan tarif masuk nol persen. Kebijakan ini dinilai menguntungkan karena membuat harga bahan baku lebih kompetitif.

Menurut Bahlil, etanol tidak hanya digunakan untuk pencampuran bahan bakar, tetapi juga menjadi bahan baku penting berbagai sektor industri.

Dengan biaya impor lebih efisien, struktur biaya produksi nasional diharapkan turun sehingga meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×