kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.564   166,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Begini strategi PLN menyulap PLTU supaya lebih ramah lingkungan


Kamis, 14 Januari 2021 / 14:24 WIB
Begini strategi PLN menyulap PLTU supaya lebih ramah lingkungan
ILUSTRASI. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) terus berupaya memberikan layanan terbaik bagi para pelanggannya. Selain menyediakan pasokan listrik yang andal, dengan semangat Transformasi, PLN juga berkomitmen tinggi untuk terus menjaga kelestarian lingkungan, terutama di wilayah yang dekat dengan pembangkit listrik.

Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbasis bahan bakar batubara ini menjadi andalan karena dinilai mampu menekan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik. Hal ini akan berimbas pada harga jual listrik kepada pelanggan yang lebih murah.

Dengan ketersediaan sumber daya alam yang melimpah di dalam negeri, pemanfaatan sumber energi primer dari batu bara masih akan menjadi andalan. Pasalnya, Indonesia bukan hanya membutuhkan listrik yang murah, namun juga yang andal. Dengan begitu, harapannya listrik yang terjangkau dan andal akan menggerakkan ekonomi negara.

Executive Vice President Corporate Communcation and CSR PLN Agung Murdifi mengungkapkan, PLTU merupakan tulang punggung penyediaan tenaga listrik nasional yang tersebar di seluruh Indonesia, sehingga yang perlu dilakukan adalah pengendalian emisi untuk menjaga kualitas lingkungan.

Baca Juga: Simak, ini cara mendapatkan token listrik gratis lewat PLN Mobile hingga website PLN

“Kami telah menjalin kordinasi dengan KLHK dan terus berupaya memenuhi standar lingkungan yang telah ditetapkan oleh regulator,” ungkap Agung dalam siaran pers di situs PLN, Selasa (12/1).

Pada tahun 2020, PLTU Tanjung Jati-B, salah satu PLTU milik PLN berhasil meraih Proper Emas dalam ajang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sementara itu, terdapat 19 PLTU milik PLN yang meraih Proper Hijau dan 96 PLTU meraih Proper Biru.

Proper Emas menjadi penghargaan tertinggi dari penilaian sebagai bukti upaya berkelanjutan perusahaan dalam bidang lingkungan, melakukan inovasi dalam aspek pemberdayaan sumber daya, serta pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Artinya, perusahaan telah menerapkan pengelolaan lingkungan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Sementara itu, Proper Hijau artinya perusahaan tersebut tidak hanya taat, melainkan melebihi ketaatan terhadap peraturan perundangan baik dalam hal penerapan sistem manajemen lingkungan, efisiensi energi, pengurangan dan pemanfaatan limbah B3, penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) limbah padat non B3, pengurangan pencemaran udara dan emisi gas rumah kaca, efisiensi air dan penurunan beban pencemaran air, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat.

Adapun Proper Biru artinya perusahaan telah taat pada empat kriteria yang ditentukan yaitu pengendalian pencemaran laut dan air, pengendalian pencemaran udara, implementasi AMDAL, dan pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Guna menjaga kelestarian lingkungan, PLN telah melengkapi PLTU berbahan bakar batu bara yang sudah ada dengan Continous Emission Monitoring System (CEMS) yang berfungsi untuk memonitor emisi secara berkelanjutan. CEMS ini dipasang pada semua PLTU berkapasitas di atas 25 Megawatt (MW) untuk melakukan pengendalian emisi secara real time.

Berbagai inovasi telah dilakukan agar PLTU menjadi lebih ramah lingkungan dan memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No P.15 Tahun 2019 tentang tingkat baku mutu emisi.

PLN melakukan pengendalian kadar sulfur batu bara dengan cara pencampuran dan pemilihan batu bara dengan komposisi campuran sulfur yang dapat memenuhi kualitas baku mutu emisi Sulfur Dioksida (SO2).

Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGE): Turn Around PLTP Kamojang selesai lebih cepat dari jadwal

Penggunaan teknologi rendah karbon juga terus dilakukan melalui pembangunan PLTU dengan teknologi Super Critical (SC) dan Ultra Super Critical (USC). PLN juga melakukan pemasangan peralatan FGD atau Flue Gas Desulfurization maupun SCR atau Selective Catalytic Reduction pada PLTU sebagai upaya mengendalikan emisi.

Untuk meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT), PLN juga terus mengembangkan program Co-Firing, yaitu pemanfaatan biomassa yang merupakan sumber energi terbarukan sebagai pencampur batu bara untuk bahan bakar PLTU.

“Selain melakukan pembangunan EBT berskala besar, program Co-Firing PLTU dengan biomassa ini merupakan langkah PLN untuk mendorong pemanfaatan EBT pada bauran energi nasional,” tambah Agung.

Program Co-Firing telah dilakukan uji coba di beberapa PLTU, antara lain PLTU Jeranjang (2×25 MW) dengan pelet sampah, PLTU Paiton (2×400 MW) pelet kayu, PLTU Rembang (2×325 MW) pelet kayu, PLTU Indramayu (3x330MW) pelet kayu, PTLU Tenayan (2×110 MW) dengan cangkang kelapa sawit, PLTU Ketapang (2×10 MW) dengan cangkang kelapa sawit, PLTU Sanggau (2×7 MW) dengan cangkang kelapa sawit, serta PLTU Belitung (2×16,5 MW) dengan cangkang kelapa sawit.

Secara keseluruhan terdapat 114 unit PLTU milik PLN yang berpotensi dapat dilakukan co-firing biomassa. Pembangkit tersebut tersebar di 52 lokasi dengan total kapasitas 18.154 MW. Harapannya, Co-Firing dapat meningkatkan bauran EBT secara nasional.

Seluruh upaya yang dilakukan merupakan wujud komitmen PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik tanah air yang terjangkau dan tetap ramah lingkungan guna mendorong roda ekonomi bangsa yang berkelanjutan.

Selanjutnya: Di masa PPKM, Pertamina dorong penggunaan non-tunai dan layanan pesan antar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×