kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.868.000   -20.000   -0,69%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Bentoel Soroti Risiko Downtrading dari Rencana Legalisasi Rokok Ilegal


Jumat, 17 April 2026 / 15:46 WIB
Bentoel Soroti Risiko Downtrading dari Rencana Legalisasi Rokok Ilegal
ILUSTRASI. Kebijakan legalisasi rokok ilegal berpotensi mendorong konsumen ke produk murah. Temukan alasan Bentoel Group mewaspadai dampak ini. (KONTAN/Muradi)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen rokok nasional, Bentoel Group, menanggapi rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk melegalisasi rokok ilegal melalui penambahan layer pada cukai hasil tembakau (CHT) yang ditargetkan mulai berlaku pada Mei 2026.

Head of Corporate and Regulatory Affairs Bentoel Group, Dian Widyanarti, menilai kebijakan tersebut berpotensi mendorong konsumen beralih ke produk dengan tarif cukai yang lebih rendah.

Menurut Dian, fenomena downtrading tidak hanya terjadi pada produk ilegal, tetapi juga dapat merambah ke produk legal. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap struktur industri hasil tembakau.

"Sebab, hal ini dapat mendorong praktik down-classing yang tidak sehat, di mana produk yang seharusnya berada di segmen lebih tinggi terdorong masuk ke layer bawah," jelasnya kepada KONTAN, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: Biaya Operasional Naik, Indonesia AirAsia Lakukan Penyesuaian Bertahap

Dian menilai, jika praktik tersebut terjadi secara luas, maka persaingan di industri rokok akan semakin bertumpu pada harga murah dibandingkan kualitas produk maupun diferensiasi merek.

Akibatnya, struktur industri berpotensi tertekan dan pada akhirnya dapat berdampak terhadap penerimaan negara dari sektor cukai hasil tembakau.

Bentoel Group memandang, perencanaan yang matang menjadi faktor penting sebelum kebijakan tersebut diterapkan. Selain itu, landasan kebijakan yang terukur, implementasi yang jelas, serta pengawasan yang konsisten juga perlu dipastikan.

Dengan demikian, manfaat kebijakan dapat dirasakan secara luas tanpa menimbulkan dampak negatif bagi berbagai pemangku kepentingan.

Lebih lanjut, Bentoel Group menegaskan bahwa penguatan pengawasan terhadap peredaran rokok ilegal harus menjadi prioritas utama agar kebijakan yang diterapkan tidak sekadar bersifat akomodatif.

"Karena itu, kami menekankan pentingnya penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap peredaran rokok ilegal dari hulu ke hilir," kata Dian.

Dari sisi persaingan usaha, Bentoel Group melihat perubahan struktur tarif cukai akan memengaruhi dinamika pasar dan peta persaingan di industri hasil tembakau.

Baca Juga: Impor BBM Bensin Indonesia Tinggal 50%, Begini Hitungannya

"Penambahan layer baru dapat menciptakan segmentasi pasar yang berbeda, termasuk adanya pergeseran preferensi konsumen," ujarnya.

Bentoel Group pun mendorong pemerintah untuk memastikan kebijakan yang diterapkan tetap menjaga level playing field atau ruang kompetisi yang setara.

"Sehingga, tidak menimbulkan ketimpangan antara pelaku usaha yang patuh dan yang sebelumnya berada di luar sistem," tegas Dian.

Meski demikian, Bentoel Group juga melihat adanya peluang dari rencana kebijakan tersebut. Jika sebagian pelaku usaha dari sektor ilegal berhasil masuk ke dalam sistem legal, maka basis penerimaan negara berpotensi semakin luas.

"Jika dirancang dengan tepat, kebijakan ini juga dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan pasar yang lebih tertib," imbuh Dian.

Secara keseluruhan, Bentoel Group menilai pendekatan legalisasi rokok ilegal melalui tambahan layer cukai perlu diiringi dengan kebijakan fiskal yang adil, terukur, dan tidak menimbulkan distorsi baru di pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×