Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju pendapatan dan laba PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) berbeda arah pada separuh pertama tahun ini. BIPI mampu membalikkan rugi menjadi laba justru ketika mengalami penurunan pendapatan pada semester I-2026.
BIPI meraih laba bersih senilai US$ 4,44 juta hingga Juni 2026. Posisi bottom line BIPI berbalik positif setelah menanggung kerugian sebesar US$ 9,9 juta pada periode yang sama tahun lalu.
BIPI kembali meraih cuan saat pendapatan merosot 33,21% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 144,83 juta menjadi US$ 96,72 juta pada semester I-2026. Penurunan pendapatan BIPI sejalan dengan kontribusi dari penjualan batubara yang menyusut 38,97% (yoy) dari US$ 128,17 juta menjadi US$ 78,21 juta.
Baca Juga: Investasi Tembus Rp 2,7 Triliun Jadi Pemicu Pertumbuhan Industri Tekstil Nasional
Penjualan batubara merupakan kontributor utama bagi bisnis BIPI yang menyumbang 80,86% dari total pendapatan pada semester I-2026. Selain dari penjualan batubara, pendapatan BIPI juga bersumber dari sewa pelabuhan senilai US$ 12,10 juta, Coal Preparation Plant (CPP) dan Overland Conveyor (OLC) sebesar US$ 4,55 juta, serta lain-lain senilai US$ 1,85 juta.
Meski pendapatan turun, tapi BIPI mampu mendongkrak perolehan laba bruto sebanyak 39,76% (yoy) dari US$ 14,66 juta menjadi US$ 20,49 juta. Laba bruto meningkat berkat penurunan beban pokok pendapatan yang terpangkas 41,43% (yoy) dari US$ 130,17 juta menjadi US$ 76,23 juta.
Beban umum dan administrasi BIPI turun tipis 0,91% (yoy) menjadi US$ 5,44 juta. Hasil ini membawa laba usaha BIPI naik 64,01% (yoy) dari US$ 9,17 juta menjadi US$ 15,04 juta. hingga Juni 2026.
Pada saat yang sama, beban keuangan BIPI terpangkas 15,75% (yoy) dari US$ 35,30 juta menjadi US$ 29,74 juta. Hasil tersebut menjadi salah satu faktor yang membawa BIPI membalikkan rugi neto US$ 9,13 juta pada semester I-2025 menjadi laba neto US$ 4,16 juta pada paruh pertama 2026.
Corporate Secretary Astrindo Nusantara Infrastruktur, Kurniawati Budiman mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja BIPI pada semester I-2026. Kurniawati menyoroti penurunan beban pokok pendapatan, yang berasal dari efisiensi kinerja operasional.
Selain itu, ada penurunan beban bunga yang disebabkan oleh semakin menurunnya pinjaman serta beban-beban lain yang bisa tetap konsisten. Capaian tersebut membawa dampak terhadap perbaikan margin BIPI, sehingga walaupun pendapatan menurun, bottom line bisa kembali positif.
Pada periode paruh kedua ini, BIPI berupaya mendongkrak pendapatan sembari menjaga perolehan laba bersih sampai tutup tahun 2026. "BIPI berusaha menjaga profitabilitas melalui pengelolaan biaya yang disiplin, peningkatan efisiensi operasional, serta optimalisasi kinerja seluruh unit usaha. Dengan strategi tersebut, BIPI berupaya mempertahankan kinerja keuangan yang sehat hingga akhir tahun 2026," ungkap Kurniawati kepada Kontan.co.id, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: Penjualan Tablet Erajaya Tumbuh Lebih dari 35%, Segmen Rp 5 Juta Paling Diminati
Rencana Ekspansi BIPI
Bersamaan dengan upaya menjaga perolehan laba tetap positif, BIPI juga menggelar sejumlah agenda ekspansi. Pada sisa tahun ini, Kurniawati menyatakan bahwa BIPI tetap fokus memperkuat bisnis infrastruktur energi, sekaligus mempercepat diversifikasi ke sektor green energy melalui penjajakan berbagai peluang investasi dan kerja sama strategis yang sejalan dengan pertumbuhan jangka panjang.
Salah satu proyek ekspansi yang sedang berjalan adalah pembangunan pabrik gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) plant, pipa gas, dan metering station yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pabrik LNG tersebut direncanakan memiliki kapasitas 2,5 MMSCFD.
BIPI memandang LNG memiliki prospek bisnis yang menarik, terutama untuk menjangkau area yang belum memiliki akses jaringan pipa gas. Lini bisnis ini juga bisa menyasar sektor ritel serta horeca (hotel, restoran, cafe).
Guna mendukung agenda ekspansi tersebut, BIPI telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 3,51 juta. Alokasi capex BIPI terutama ditujukan untuk membiayai kebutuhan infrastruktur, lahan, serta penyelesaian proyek LNG, pipa gas dan metering station.
Hanya saja, Kurniawati belum membuka proyeksi realisasi capex BIPI sampai akhir tahun 2026. "BIPI telah menyiapkan capex untuk mendukung pelaksanaan rencana bisnis tahun 2026. Namun, nilainya belum dapat dinyatakan secara spesifik karena pelaksanaannya akan disesuaikan dengan perkembangan proyek dan kebutuhan investasi BIPI," ujarnya.
Selain itu, BIPI juga menggelar ekspansi ke bisnis pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WtE). Saat ini, BIPI memiliki dua proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang bekerjasama dengan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA).
Kedua proyek PSEL tersebut berlokasi di Tangerang Selatan (Tangsel) dan Lampung. "BIPI terus mengikuti proses pengembangan proyek dan mengevaluasi setiap peluang yang ada. Saat ini fokus di (proyek PSEL) Lampung dan Tangsel," tandas Kurniawati.
Baca Juga: Freeport Minta Perpanjangan IUPK Setelah 2041, Begini Urgensinya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
