kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45749,52   23,69   3.26%
  • EMAS920.000 0,66%
  • RD.SAHAM 1.15%
  • RD.CAMPURAN 0.62%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.32%

Bisnis air minum kemasan diprediksi bakal meningkat tahun depan


Kamis, 05 Desember 2019 / 16:29 WIB
Bisnis air minum kemasan diprediksi bakal meningkat tahun depan
ILUSTRASI. Aktivitas produksi air mineral dalam kemasan (AMDK) Le Minerale di pabrik Mayora Grup, Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (16/10/2019).

Reporter: Agung Hidayat | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Gelaran pemilihan umum tahun ini dinilai berdampak positif bagi industri minuman ringan, khususnya Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Tak heran pelaku industri cukup optimistis menatap tahun 2020 nanti.

Rachmat Hidayat, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyebutkan akhir tahun ini industri berkesempatan mengerek penjualan dengan momen Natal dan Tahun Baru. Dimana biasanya momen hari libur tersebut dapat mendongkrak penjualan kisaran 10% dibandingkan hari-hari biasa lainnya.

Baca Juga: Segar Bisnis AMDK di Tengah Musim Kemarau

"Secara umum kami meyakini industri ini dapat mencapai target, harapannya sampai akhir tahun ini bisa tumbuh 9%," sebut Rachmat kepada Kontan.co.id, Kamis (5/12). Mengenai proyeksi di tahun 2020, Rachmat belum ingin berspekulasi namun asosiasi masih optimistis pertumbuhannya lebih baik dibandingkan tahun ini.

Secara volume, produksi AMDK lebih besar dibandingkan minuman ringan lainnya. Menurut Rachmat tahun ini volume produksi AMDK diperkirakan naik menjadi 30 miliar liter, dimana pada tahun kemarin volume produksi hanya 29 miliar liter.

Tantangan terbesar bagi industri ini di tahun depan masih sama sepertk tahun-tahun sebelumnya yakni distribusi dan jalur logistik dalam negeri yang berpotensi menguras biaya. Apalagi margin keuntungan produk AMDK tidak tergolong tinggi, sehingga produsen harus selalu mengencangkan efisiensi atau meningkatkan kapasitas produksi.

Keunggulan dari segi logistik tampaknyalah yang membuat produsen AMDK seperti Danone-Aqua lebih banyak bermain di sisi produk galon 19 liter. Manajemen menyebutkan hampir 70% volume penjualan berasal dari produk galon, sisanya dari kemasan kecil lainnya.

"Selain memproduksi bahan berkualitas di sisi lain kami juga mampu mengantarkan produk ke tangan konsumen dengan baik," ucap, Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director Danone Aqua ditemui disalah satu acara seminar, Kamis (5/12).

Baca Juga: Musim kemarau panjang diyakini bakal dongkrak penjualan AMDK

Dalam catatan Kontan.co.id, Danone-Aqua menjadi market leader untuk produk AMDK dengan kapasitas produksi mencapai 79 juta galon per tahunnya.

Selain punya distribusi yang luas, perusahaan juga melakukan efisiensi dengan mempelopori penggunaan plastik daur ulang sebagai material botol minumannya. Setidaknya hampir 25% dari kebutuhan plastik Danone-Aqua saat ini berasal dari plastik daur ulang.

Sementara itu produsen AMDK merek Nestle Pure Life, PT Akasha Wira International Tbk (ADES) mengaku bahwa efisiensi menjadi faktor pendorong utama pendongkrak kinerja perseroan. Meski pertumbuhan topline perusahaan masih single digit di sembilan bulan pertama tahun ini, namun raihan bottomline terjadi kenaikan signifikan.

Berkaca pada laporan keuangan perseroan sampai September tahun ini revenue yang diperoleh tercatat Rp 616,02 miliar atau hanya tumbuh 3,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 596,52 miliar. Beban pokok penjualan turut naik 4,1% year on year (yoy) menjadi Rp 308,61 miliar.

Sehingga perolehan laba kotor ADES tercatat Rp 307,40 miliar sampai kuartal tiga tahun ini, atau naik 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun kemarin Rp 300,19 miliar. Namun demikian beberapa pos beban lainnya terjadi penurunan, alhasil laba bersih yang didapat sampai September tahun ini ialah Rp 46,93 miliar.

Baca Juga: Sentimen antiplastik masih membayangi industri plastik

Jumlah tersebut melejit 32% dibandingkan laba bersih kuartal-III tahun lalu Rp 35,55 miliar. "Perusahaan memang melakukan efisiensi," terang Thomas Maria Wisnu Adjie, Direktur ADES.

Sebelumnya Thomas sempat bilang bahwa perusahaan hampir melakukan efisiensi diberbagai lini, mulai dari administrasi hingga sisi operasional. Di laporan keuangan hampir semua beban ada penurunan, yang paling besar terjadi di beban keuangan yang menyusut 30% dari Rp 17,79 miliar di kuartal-III tahun 2018 menjadi Rp 12,54 miliar di kuartal-III tahun ini.

Bisnis ADES sendiri masih ditopang oleh penjualan Air Minum Dalam Kemasan (Amdk) sebesar 64% dari penjualan bersih di kuartal ketiga tahun ini atau senilai Rp 394,44 miliar. Segmen bisnis ini tumbuh hingga 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 366,09 miliar.

Setidaknya sampai saat ini perusahaan memiliki kapasitas pabrikan Amdk mencapai 800.000 liter per tahunnya yang diproduksi di Jawa Barat dan Jawa Timur. Adapun sampai akhir tahun ini perusahaan masih optimistis untuk meraih pertumbuhan kisaran 15%.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×