kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45945,64   10,29   1.10%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bisnis Truk Tetap Menjanjikan di tengah Harga Komoditas yang Melandai


Jumat, 09 Juni 2023 / 07:27 WIB
Bisnis Truk Tetap Menjanjikan di tengah Harga Komoditas yang Melandai
ILUSTRASI. Bisnis truk tetap menjanjikan


Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kendaraan truk Tanah Air dinilai masih menjanjikan pada 2023 kendati harga sejumlah komoditas tampak mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.

Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales (pabrik ke dealer) truk nasional tumbuh 6,63% year on year (YoY) menjadi 28.746 unit pada Januari-April 2023.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebut, industri truk nasional memiliki prospek yang positif. Hal ini didukung oleh melimpahnya komoditas pertambangan dan perkebunan di Tanah Air, sehingga kebutuhan terhadap truk untuk mengangkut hasil komoditas tersebut cukup tinggidi tiap tahun.

“Kalau harga komoditas bagus, maka penjualan truk juga akan meningkat,” imbuh Jongkie, Kamis (8/6).

Baca Juga: Hasil Kunjungan ke Jepang, RI Dorong Peningkatan Ekspor dari Fuso, Daihatsu, Isuzu

Mengutip data di situs Trading Economics, harga komoditas seperti batubara di pasar global tercatat berada di level US$ 136 per ton pada Kamis (8/6). Harga batubara sudah turun cukup dalam dibandingkan Juni 2022 lalu yang mana harga komoditas ini hampir menyentuh level US$ 400 per ton.

Harga nikel juga mengalami penurunan, mengingat Juni 2022 lalu harganya masih di kisaran US$ 27.900 per ton. Namun, pada Kamis (8/6), harga nikel berada di level US$ 21.021 per ton.

Sementara itu, harga Crude Palm Oil (CPO) per hari ini ada di level RM 3.267 per ton. Padahal, bulan Juni 2022 lalu harga CPO masih berada di atas RM 6.000 per ton.

Dengan demikian, sejauh ini penjualan truk di Indonesia tidak begitu terdampak oleh penurunan harga komoditas pertambangan maupun perkebunan.

Jongkie turut menambahkan, permintaan truk untuk kebutuhan angkutan logistik juga cukup tinggi di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan stabilnya pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5%, yang ditandai dengan tingginya mobilitas angkutan barang di dalam negeri.

Dihubungi terpisah, Chief Operating Officer PT Hino Motors Sales Indonesia Santiko Wardoyo mengklaim, penjualan truk merek Hino di dalam negeri masih cukup moncer sepanjang 2023 berjalan.

“Sampai bulan Mei lalu, penjualan truk kami tumbuh kira-kira 30%,” tukas dia, Kamis (8/6).

Baca Juga: Isuzu Bakal Pindahkan Pabrik Truk ke Indonesia, Begini Respons Gaikindo

Meski terjadi penurunan harga komoditas, penjualan Hino tetap didominasi oleh truk-truk yang ditujukan untuk sektor pertambangan dan perkebunan. Pihak Hino menilai, aktivitas pengangkutan hasil komoditas tetap terlihat masif. Apalagi, sampai saat ini perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh positif sesuai harapan sekalipun situasi global sedang tak menentu.

Hino bahkan menganggap, permintaan truk di Indonesia telah melampaui kondisi suplai unit yang tersedia. Alhasil, beberapa pelanggan Hino harus melewati periode inden ketika memesan truk yang diinginkannya.

Santiko melanjutkan, bila berkaca pada kondisi pasar terkini, pihaknya optimistis mampu mempertahankan pangsa pasar truk ukuran medium di kisaran 60% pada tahun 2023.

Di sisi lain, Hino belum memiliki rencana untuk meluncurkan produk truk baru dalam waktu dekat. Perusahaan ini lebih fokus untuk memasarkan produk-produk yang sudah ada, mengingat bulan April lalu kebijakan standar emisi Euro 4 untuk kendaraan diesel baru diterapkan di Indonesia.

“Banyak pelanggan kami yang masih transisi menggunakan truk Euro 4, sehingga kami fokus memaksimalkan produk eksisting dulu,” ungkap Santiko.

Sebagai informasi, Hino menjual tiga tipe truk, yaitu Hino 300 Series, Hino 500 Series, dan Hino 700 Series.

Christine Arifin, Marketing and Business Development Head PT UD Trucks Astra Motor Indonesia mengatakan, penjualan truk UD Trucks masih sesuai dengan target sampai bulan Mei kemarin. Sayangnya, ia tidak membeberkan secara detail angka penjualan truk UD Trucks.

Baca Juga: Menperin Sebut Isuzu Akan Pindahkan Pabrik Truk dari Thailand ke Indonesia

UD Trucks mengakui, permintaan truk untuk sektor pertambangan mengalami penurunan seiring dengan koreksi harga sejumlah komoditas. Namun, hal ini bisa dikompensasi dengan peningkatan permintaan produk truk kargo yang mengangkut berbagai kebutuhan logistik. Peningkatan ini tak lepas dari berakhirnya pandemi yang memicu melonjaknya aktivitas di berbagai sektor industri.

Selain itu, UD Trucks menilai bahwa saat ini produksi truk tampak lebih kondusif lantaran masalah kelangkaan part yang sempat terjadi pada tahun lalu kini sudah teratasi. “Kami akan lanjutkan strategi yang berfokus pada solusi untuk manajemen armada, sehingga konsumen kami dapat memaksimalkan keuntungan dari operasional kendaraannya,” terang dia, hari ini (8/6).

Kendati belum bisa diungkap secara gamblang, UD Trucks berencana meluncurkan model truk baru pada sisa tahun ini.

Sekadar catatan, UD Trucks memiliki berbagai line up model truk Quester yang dapat digunakan untuk berbagai sektor industri. Truk buatan UD Trucks pun sudah menyandang standar emisi Euro 5.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

[X]
×