kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.023.000   -45.000   -1,47%
  • USD/IDR 16.822   -18,00   -0,11%
  • IDX 8.335   54,34   0,66%
  • KOMPAS100 1.172   8,13   0,70%
  • LQ45 845   7,36   0,88%
  • ISSI 297   2,29   0,78%
  • IDX30 447   4,91   1,11%
  • IDXHIDIV20 534   5,18   0,98%
  • IDX80 131   0,94   0,73%
  • IDXV30 145   2,62   1,83%
  • IDXQ30 144   1,25   0,88%

Bos Agrinas Ungkap Alasan Impor 105.000 Pikap dari India, Simak Penjelasannya!


Rabu, 25 Februari 2026 / 13:36 WIB
Bos Agrinas Ungkap Alasan Impor 105.000 Pikap dari India, Simak Penjelasannya!
ILUSTRASI. Keterbatasan suplai dan harga tak rasional jadi alasan Agrinas memilih impor. Terkuak fakta negosiasi gagal dengan Isuzu, Toyota, dan lainnya (ANTARA FOTO/Andry Denisah)


Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah sorotan publik soal keputusan impor 105.000 unit pikap dari India untuk Koperasi Merah Putih, PT Agrinas Pangan Nusantara akhirnya membuka satu per satu proses yang mereka lalui sebelum menjatuhkan pilihan ke luar negeri.

Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, mengatakan bahwa pihaknya tidak serta-merta mengabaikan merek yang sudah memproduksi secara lokal.

Justru, hampir semua pemain besar sudah diundang, duduk bersama, bernegosiasi, hingga dibuatkan berita acara resmi.

Joao bahkan menunjukkan dokumen dan foto-foto pertemuan sebagai bukti bahwa proses berjalan sesuai prosedur.

“Nah, bisa dilihat ya. Ini adalah Isuzu yang berita acara ini, dan sesuai dengan prosedur, kami melakukan prosedural pengadaan sesuai dengan standar pengadaan, yaitu mulai dari klarifikasi, kualifikasi, negosiasi, dan setelah di ujung ya harus ada kesepakatan gitu,” kata Joao, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Baca Juga: Dirut Agrinas Akan Temui Dasco, Jelaskan Alasan Impor Pikap dari India

Salah satu yang diundang adalah lini Isuzu yang berada di bawah naungan Astra International. Dalam prosesnya, Isuzu hanya menyanggupi pasokan 900 unit. Angka itu jauh dari kebutuhan.

Joao menjelaskan, keterbatasan tersebut terjadi karena suplai karoseri lokal sudah penuh dipesan merek lain.

“Sampai di titik ini, kesepakatan yang disepakati antara Agrinas dengan Isuzu adalah mereka mampu menyuplai 900 unit,” katanya.

Grup Astra juga beberapa kali kembali hadir dengan penawaran berbeda. Mulai dari Isuzu D-Max, lalu Toyota Hilux, hingga Hilux Rangga. Untuk Hilux, yang diproduksi oleh Toyota, tersedia opsi 4x4 dan 4x2. Namun harga dan kapasitas produksi menjadi ganjalan.

“Harga yang mereka tawarkan tidak kami sepakati karena ujungnya adalah terkait harga. Terkait harga dan kemampuan produksi mereka hanya 800 unit per dari April sampai dengan Mei 2026,” ucap Joao.

Untuk Hilux Rangga, kemampuan produksi disebut hanya 400 unit per bulan, sementara harga 4x2 yang ditawarkan sekitar 25 persen lebih mahal dibanding kompetitor yang akhirnya dikontrak.

Di segmen lain, Agrinas juga mengundang Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) Motors yang memproduksi Mitsubishi Fuso. Hasilnya, tercapai kesepakatan suplai 20.600 unit truk roda enam.

Untuk pikap 4x4, Isuzu Traga sempat dibahas. Bahkan ada wacana produksi lokal 4x4. Namun negosiasi tak berlanjut. Mitsubishi L300 juga hadir, tetapi kapasitasnya hanya 750 unit per bulan, dengan harga yang disebut hampir setara dengan pikap 4x4 impor.

“Sehingga menurut kami kalau sama-sama 4x4 dan 4x2 dan kemampuan muatnya lebih banyak, kami terus terang saja kalau melihat keberpihakan atau melihat ini kami pasti memilih yang lebih kuat, lebih tahan, dan lebih pasti bahwa itu bisa digunakan di semua medan gitu,” ujar dia.

Hino Motors pun diajak. Awalnya hanya mampu 120 unit per bulan atau 400 unit per tiga bulan. Setelah lobi ke Jepang, kapasitasnya naik hingga 10.000 unit. Sementara dari China, Foton menyepakati suplai 13.500 unit Foton Aumark.

Lalu bagaimana dengan pikap 4x2 populer seperti Suzuki Carry dan Gran Max? Suzuki dan Daihatsu juga diundang.

Namun menurut Joao, selain kapasitas produksi tahunan yang sudah terserap pasar, yang salah satunya program MBG, persoalan utama tetap pada skema harga. Agrinas membeli dalam jumlah besar (bulk), tetapi harga tetap dihitung per unit seperti transaksi reguler.

“Nah, kira-kira klarifikasi kami terkait dengan isu bahwa kami tidak memberikan kesempatan atau tidak memberikan ruang kepada produsen lokal saya rasa bahwa itu tidak benar gitu,” kata Joao.

“Karena kita harus kita juga terbuka, kita juga melakukan kegiatan ini secara transparan, dan semua produsen kita beri kesempatan yang sama. Masalah kalau tidak ada kesepakatan atau tidak ada ini kan wajar dalam bisnis,” ujarnya.

Joao menambahkan, pihaknya harusnya mendapat harga yang lebih ekonomis. Sebab proyek ini bukan pembelian rutin, melainkan program khusus berskala besar.

“Harusnya harga lebih efektif dan lebih rasional, memenuhi anggaran yang sudah kami siapkan. Tetapi sampai akhir ternyata produsen-produsen lokal ini sebagian besar mungkin karena dominasi selama sekian puluh tahun, mereka cenderung merasa bahwa membeli bulk itu tidak ada bagi mereka, tetap dihitung per unit,” ujar dia.

Baca Juga: Industri Komponen Otomotif, Mesin hingga Kaca Kritisi Impor Mobil India oleh Agrinas

Mahindra kembali beroperasi di Indonesia

“Sampai dengan terakhir kami tidak mendapatkan atau tidak dikasih kesempatan untuk memberikan dengan harga yang khusus sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar, khususnya India,” katanya.

Dari situlah Agrinas akhirnya menggandeng pabrikan India untuk memenuhi kebutuhan pikap 4x4 dan truk dalam jumlah besar. Joao menyebut, melalui skema tersebut Agrinas mengklaim bisa menghemat hingga Rp 46,5 triliun.

Bagi Agrinas, keputusan impor bukan soal menutup pintu bagi industri dalam negeri, melainkan hasil akhir dari rangkaian undangan, negosiasi, dan angka-angka yang tak bertemu. Dan di situlah, menurut mereka, keputusan bisnis akhirnya diambil.

Selanjutnya: Jadwal Libur Lebaran 2026: Cek Kalender bagi Anak Sekolah hingga ASN

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Kebutuhan Dapur 16-28 Februari 2026, Bumbu-Kornet Diskon hingga 50%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×