Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan PT Pertamina Patra Niaga mengungkap adanya pergeseran pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masyarakat. Setelah harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan, sebagian konsumen beralih menggunakan BBM bersubsidi, yakni Pertalite dan Biosolar.
Perubahan pola konsumsi tersebut tercermin dari meningkatnya penyaluran Pertalite dan Biosolar sepanjang Juli 2026. Di sisi lain, konsumsi BBM non-subsidi, seperti Pertamax Series dan Dex Series, justru mengalami penurunan signifikan.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, menyampaikan bahwa realisasi penyaluran Pertalite dan Biosolar pada Juli 2026 telah melampaui rata-rata konsumsi normal.
"Peningkatan penyaluran tersebut masih dapat dilayani dan terus kami monitor secara harian," kata Taufik dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (16/7/2026).
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menjelaskan bahwa perubahan perilaku konsumen mulai terlihat setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi pada Juni lalu.
Baca Juga: Kelangkaan BBM di Sejumlah Daerah Picu Antrean Panjang, Ini Penjelasan BPH Migas
Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga, proporsi Pertalite terhadap total konsumsi bensin meningkat, dari 75,4% pada periode Januari–Mei 2026 menjadi 80,3% pada Juli 2026.
Sebaliknya, pangsa konsumsi Pertamax turun dari 23,2% menjadi 18,8%. Data tersebut mengindikasikan terjadinya peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026.
Akibat pergeseran tersebut, rata-rata penyaluran Pertalite sepanjang Juli meningkat 9,4% atau bertambah 7.129 kiloliter (KL) per hari dibandingkan kondisi normal.
Berbeda dengan Pertalite, konsumsi produk Pertamax Series yang meliputi Pertamax, Pertamax Green 95, dan Pertamax Turbo mengalami penurunan hingga 18% pada bulan ini. Secara volume, konsumsi Pertamax Series turun sebesar 4.476 KL per hari dibandingkan rata-rata normal.
Konsumsi Biosolar Meningkat, Dex Series Menurun
Pola serupa juga terjadi pada konsumsi BBM jenis diesel. Proporsi Biosolar terhadap total konsumsi gasoil naik dari 93% pada periode Januari–Mei 2026 menjadi 94,2% pada Juli 2026.
Di saat yang sama, porsi Dexlite turun dari 4,1% menjadi 3,5%.
Baca Juga: PLN Ringankan Biaya Tambah Daya Listrik hingga Akhir Juli 2026, Cek Syaratnya
Lonjakan konsumsi Biosolar bahkan mencapai 13,9% atau setara tambahan 6.725 KL per hari dibandingkan rata-rata normal. Sebaliknya, konsumsi Dex Series, yang terdiri dari Dexlite dan Pertamina Dex, menyusut 6,4% atau turun 232 KL per hari.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas membenarkan adanya tren peningkatan penggunaan BBM subsidi setelah kenaikan harga BBM umum atau non-subsidi.
"Masyarakat cenderung (beralih) yang semula menggunakan BBM non-subsidi menjadi subsidi," kata Wahyudi.
Data BPH Migas menunjukkan, hingga Juni 2026 realisasi penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) atau minyak solar telah mencapai 9,48 juta KL. Angka tersebut setara dengan 50,85% dari total kuota APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 18,64 juta KL.
Sementara itu, realisasi penyaluran Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite mencapai 13,96 juta KL hingga akhir Juni 2026, atau sekitar 47,68% dari kuota tahunan sebesar 29,27 juta KL.
Antrean di SPBU Dipicu Migrasi Konsumen
Migrasi konsumsi menuju BBM subsidi disebut menjadi salah satu faktor yang memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam sepekan terakhir.
Meski demikian, BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman.
Baca Juga: Proyek LNG Abadi Masela Diresmikan, Kesejahteraan Masyarakat Lokal Harus Ditingkatkan
Taufik menjelaskan bahwa stok rata-rata BBM nasional saat ini berada pada kisaran 14 hingga 40 hari, bergantung pada jenis BBM dan wilayah distribusi. Adapun stok Pertalite dan Biosolar rata-rata berada di level sekitar 15 hari.
Selain BBM, Pertamina Patra Niaga juga memastikan pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) tetap terjaga.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, Pertamina Patra Niaga telah menambah pasokan, armada distribusi, jumlah awak, serta memperpanjang jam operasional. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat normalisasi distribusi BBM di berbagai daerah.
"Atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat, kami menyampaikan permohonan maaf. Mohon juga masyarakat tidak terlalu khawatir bahwa secara stok nasional kebutuhan BBM dan LPG senantiasa kami siapkan lebih dari cukup dan ini akan kami uraikan untuk distribusinya lebih cepat ke SPBU dan ritel," tegas Taufik.
Di sisi lain, BPH Migas menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap penyalahgunaan BBM subsidi. Menurut Wahyudi, lembaganya telah melakukan pemblokiran QR Code pembelian BBM subsidi dan menindak pelanggaran yang ditemukan di lapangan.
"Kami tindak tegas untuk temuan di lapangan. Antrean yang terjadi saat ini kami terus fokus untuk melakukan normalisasi, dan paling lama 1-2 hari ke depan InsyaAllah semua akan cukup lancar kembali," ungkap Wahyudi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
