Reporter: Epung Saepudin | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Dendeng Babi yang marak beredar di masyarakat membuat konsumen resah. Dua hari yang lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menemukan lima mereka dendeng yang positif mengandung DNA babi. Parahnya lagi, produsen tersebut ternyata memiliki alamat fiktif alias tak jelas. Menurut Kepala BPOM Husniah kemarin, dendeng babi itu beredar di lima wilayah yaitu Jakarta, Bogor, Bandung, Jambi, Semarang, Malang.
Produsen tersebut, menurut Husniah, telah melakukan kebohongan yang merugikan konsumen. Parahnya ada juga yang menyertakan label halal dalam produknya. "Kami masih terus melakukan pengujian dan pengawasan," tegasnya.
Untuk mencegah makin meluasnya dendeng yang mengandung babi tersebut, ia telah memerintah Balai BPOM seluruh Indonesia untuk terus melakukan sweeping dan memusnahkan merek yang positif mengandung dendeng babi. "Kita sudah imbau seluruh Balai BPOM yang ada di daerah," tegasnya.
Penyebaran dendeng mengandung babi mesti cepat diselesaikan oleh aparat yang berwenang. Menurut YLKI produsen fiktif yang menyebarkan dendeng babi dan membohongi konsumen telah melanggar undang-undang perlindungan konsumen. Terutama pada pasal 8 ayat 1 huruf A UU Nomor 8 tahun 1999. Ancaman hukumannya bisa berupa penjara di atas lima tahun dan denda ratusan juta rupiah. "hal itu sangat terlarang bagi pengusaha," ujar Sudaryatmo Pengurus harian YLKI.
Sudaryatmo bilang, kasus dendeng sapi ini memiliki tiga dimensi persoalan yaitu pidana perdata dan juga administrasi. Karena dendeng sapi ini merupakan industri rumah tangga, maka sanksi administrasi bisa diberikan berupa memberi peringatan hingga mencabut izin usahanya. "Memang ada persoalan juga, BPOM selama ini hanya memiliki kewenangan di tingkat pengawasan makanan produsen besar, pengawasan makanan industri rumah tangga itu di tingkat kabupaten atau kotamadya," ujar Sudaryatmo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News