kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Bulog siap kembangkan infrastruktur pascapanen


Selasa, 31 Januari 2017 / 16:47 WIB
Bulog siap kembangkan infrastruktur pascapanen


Sumber: Antara | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Perum Bulog pada tahun 2017 siap menanamkan investasi untuk mengembangkan infrastruktur pascapanen. Ini guna meningkatkan kualitas hasil produksi petani, khususnya padi, jagung dan kedelai.

Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, kesulitan petani selama ini untuk meningkatkan kualitas hasil panennya karena tak ada infrastruktur pascapanen di pedesaan.

Infrastruktur pascapanen tersebut seperti, alat pemanen, mesin penggilingan padi, mesin pengering maupun silo sebagai gudang penyimpanan gabah serta pengepakan.

"Pada tahun ini Bulog mendapatkan dana PMN (Penyertaan Modal Negara) dari pemerintah senilai Rp 2 trilun yang akan digunakan untuk investasi pengembangan infrastuktur pascapanen komoditas padi, jagung dan kedelai," katanya, Selasa (31/1).

Djarot mengatakan, rencana investasi PMN tersebut yakni untuk pembangunan penggilingan beras modern atau Modern Rice Milling Plant (MRMP) terintegrasi yang berkapasitas serapan satu juta ton setara gabah kering giling (GKG) di sentra produksi.

Penggilingan beras tersebut menggunakan teknologi pengeringan dan penggilingan modern dengan ditopang 22 drying centre dan 17 milling serta 80 silo. "Ini untuk menurunkan susut pasca panen, meningkatkan kuantitas serapan gabah serta meningkatkan kualitas hasil panen gabah," kata dia. 

Kemudian pembangunan mesin rice to rice dengan kemampuan pengadaan beras sebesar 250.000 ton per tahun untuk memproses beras sesuai kualitas yang diinginkan serta reprocessing atau memproses ulang beras guna menjaga mutu dan kualitasnya.

Pembangunan 11 unit drying centre dan 64 unit silo jagung dengan total kapasitas 192.000 ton serta gudang penyimpanan kedelai sebanyak 13 unit dengan total kapasitas 45.000 ton di sentra-sentra produksi.

Pada kesempatan tersebut Dirut Bulog menegaskan tidak benar bahwa BUMN yang dipimpinnya enggan menyerap gabah ataupun jagung petani karena kualitasnya tidak bagus. Menurut dia, setiap kali ada keluhan bahwa Bulog tak mau membeli beras petani saat panen, maka pihaknya langsung menurunkan petugas ke lapangan untuk memastikan hal itu.

Ternyata, lanjutnya, gabah yang ditawarkan adalah yang sudah roboh akibat angin dan hujan sehingga hanya berisi kapur padahal pihaknya harus menjual dalam bentuk beras. "Kami tidak berani menyerap karena tidak memiliki pengering yang memadai," katanya.

Oleh karena itu, Djarot menyatakan, setelah memiliki infrastruktur pascapanen yang memadai diharapkan meningkatkan penyerapan hasil produksi petani.

(Subagyo)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×