kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

BUMI menargetkan produksi batubara 2020 naik 5%


Senin, 06 Januari 2020 / 18:21 WIB
BUMI menargetkan produksi batubara 2020 naik 5%
ILUSTRASI. Stasiun pengumpul batu bara milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Sangatta, Kalimantan Timur. KONTAN/Cheppy A. Muchlis

Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) optimistis menyambut tahun 2020. Buktinya perusahaan tambang batubara ini yakin produksi batubara di tahun ini bisa naik 5% dari realisasi tahun lalu.

"Output kami di tahun 2019 sekitar 88 juta metrik ton dibanding realisasi 2018 sekitar 80 juta metrik ton," ungkap Direktur BUMI Dileep Srivastava kepada Kontan.co.id, Senin (6/12). Dengan dasar ini, target produksi batubara BUMI di akhir tahun ini bisa mencapai 92,4 juta metrik ton.

Dia menambahkan, target produksi 2020 masih akan didominasi produksi batubara kalori tinggi dari PT Arutmin Indonesia. Kendati demikian, Dileep bilang, selain lewat sumbangsih pertumbuhan produksi dari Arutmin, produksi juga kemungkinan besar disokong lewat Pendopo Energi Batubara.

Baca Juga: Volume penjualan naik, tapi harga jual Bumi Resources (BUMI) turun

Hingga saat ini BUMI telah memperoleh kontrak jangka panjang untuk memasok batubara bagi PLN. "Secara kuantitas, BUMI telah memperoleh kontrak untuk memasok batubara sekitar 50% dari target penjualan di 2020," ungkap Dileep.

Secara keseluruhan, kinerja BUMI di tahun 2019 kurang mumpini. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan BUMI pada kuartal III-2019 tercatat US$ 751,85 juta. Turun 8,85% secara dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar US$ 824,85 juta.

Baca Juga: Anjlok sepanjang 2019, harga batubara diprediksi menguat tahun ini

Alhasil, laba bersih perusahaan pun anjlok 62,94% jadi US$ 76,07 juta. Dileep menyebut, meskipun penghasilan bersih BUMI anjlok 63% lebih rendah dari tahun lalu, tapi hal itu dapat dilihat dalam konteks kondisi ekonomi dan sektor global yang kurang mendukung pada tahun ini.

"Hal ini mengakibatkan berlanjutnya ketidakseimbangan dalam pasokan dan permintaan batubara serta harga yang lebih rendah," ujar dia. 





Close [X]
×