Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Persaingan mobil listrik di Indonesia kian memanas, seiring menguatnya dominasi BYD di pasar domestik. Sepanjang semester I 2026, produsen asal China tersebut membukukan penjualan sekitar 26.000 unit, dan menguasai sekitar 35% pangsa pasar kendaraan listrik nasional.
Pengamat otomotif ITB (Institute Teknologi Bandung) Yannes Martinus Pasaribu menilai, keberhasilan BYD tidak semata-mata ditopang harga yang kompetitif, melainkan karena perusahaan menguasai hampir seluruh rantai nilai produksinya, mulai dari baterai, motor listrik hingga sistem elektronik kendaraan.
Menurutnya, integrasi tersebut membuat biaya produksi BYD jauh lebih efisien dibandingkan para pesaingnya.
Baca Juga: Menperin: Insentif Kendaraan Listrik Diprioritaskan untuk Merek Nasional
“BYD mengembangkan hampir seluruh komponen utamanya secara terintegrasi. Skala produksi global yang besar juga membuat mereka mampu menawarkan harga yang sulit disaingi,” ujar Yannes kepada KONTAN, Kamis (30/7/2026).
Ia menambahkan, percepatan perakitan lokal di Subang turut membantu menekan biaya produksi sehingga harga jual kendaraan menjadi lebih kompetitif.
Selain harga, BYD juga dinilai menawarkan nilai tambah melalui desain modern, fitur Advanced Driver Assistance Systems (ADAS), layar digital, hingga arsitektur elektronik yang lebih canggih dibandingkan kendaraan di kelas harga yang sama.
Menurut Yannes, kombinasi efisiensi biaya dan kelengkapan fitur tersebut membuat persepsi konsumen terhadap harga mobil mulai berubah, khususnya di kalangan generasi milenial dan Gen Z yang dinilai lebih rasional dalam memilih kendaraan.
Meski demikian, Yannes menilai persaingan pasar mobil listrik justru semakin terbuka. Dominasi BYD tidak lagi sebesar tahun sebelumnya ketika sempat menguasai lebih dari separuh pasar kendaraan listrik nasional.
Ia melihat sejumlah merek seperti Jaecoo, Geely, AION, VinFast, dan Chery mulai mempersempit jarak dengan menawarkan SUV berfitur lengkap dengan harga yang kompetitif. Bahkan, pada beberapa bulan tertentu, model dari para pesaing tersebut mampu menjadi mobil listrik berbasis baterai (BEV) terlaris.
Baca Juga: Indeks Kepercayaan Industri Naik ke 53,10 di Juli, Industri Domestik Makin Bergairah
“BYD masih memiliki keunggulan struktural melalui penguasaan komponen utama, skala produksi global, dan efisiensi logistik. Namun peluang bagi merek lain untuk mengejar tetap terbuka dan persaingan akan semakin ketat,” katanya.
Menurut Yannes, dalam kondisi suku bunga yang masih relatif tinggi dan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, pabrikan tidak lagi cukup mengandalkan strategi diskon harga.
Ia memperkirakan pelaku industri akan lebih agresif menawarkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel, memperluas penjualan ke segmen armada dan korporasi (fleet), serta mempercepat lokalisasi produksi dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) guna meningkatkan daya saing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














