Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten laboratorium PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) catat kinerja relatif stabil sepanjang 2025 lalu, walau pos pendapatan masih tertekan di tengah kenaikan biaya dan investasi pengembangan bisnis.
Berdasarkan laporan Perseroan, PRDA membukukkan pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun pada 2025, tumbuh tipis 1,31% yoy. Pertumbuhan ini ditopang oleh kontribusi segmen pemeriksaan rutin sebagai tulang punggung bisnis serta peningkatan permintaan pada layanan esoterik yang bernilai tambah lebih tinggi.
Namun, laba bersih Perseroan turun cukup dalam. Per 31 Desember 2025, laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp 206,69 miliar, tertekan 23,5% yoy dari Rp 270,20 miliar pada periode tahun 2024 oleh sejumlah faktor biaya.
Baca Juga: J&T Express: Fesyen Masih Dominasi Pengiriman Ramadan 2026
Direktur Bisnis & Pemasaran PT Prodia Widyahusada Tbk, Indriyanti Rafi Sukmawati menjelaskan, penurunan laba terutama dipengaruhi oleh alokasi investasi untuk penguatan ekosistem digital.
“Laba bersih mengalami penurunan, hal ini dipengaruhi oleh pengalokasian dana untuk pengembangan dan penguatan ekosistem digital Perseroan, termasuk optimalisasi layanan aplikasi kesehatan guna meningkatkan pengalaman pelanggan dan integrasi layanan berbasis teknologi,” ujarnya kepada Kontan, belum lama ini.
Selain itu, kenaikan beban pokok penjualan (COGS) juga turut menekan margin. COGS tercatat meningkat seiring penyesuaian harga bahan baku medis dan bahan penunjang lainnya.
Secara rinci, beban pokok penjualan mencapai Rp 949 miliar atau naik 5,42% yoy, hal ini menyebabkan laba kotor turun tipis 1,43% yoy menjadi Rp 1,33 triliun.
Meski demikian, Prodia masih mampu menjaga kinerja operasional dengan mencatatkan laba usaha (EBIT) sebesar Rp 225 miliar dan laba sebelum pajak (EBT) Rp 264 miliar. Adapun laba bersih setelah pajak tercatat Rp 207 miliar.
Dari sisi neraca, fundamental keuangan perusahaan masih tergolong solid. Total aset mencapai Rp 2,70 triliun dengan total liabilitas Rp 302 miliar dan ekuitas Rp 2,39 triliun, mencerminkan tingkat leverage yang rendah.
Arus kas operasi juga tetap kuat dengan nilai Rp 424 miliar, menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari aktivitas inti bisnis.
Memasuki 2026, manajemen Prodia menyiapkan sejumlah strategi untuk mendorong pertumbuhan pendapatan sekaligus memperbaiki margin.
Indriyanti menyebutkan, perusahaan akan menjalankan strategi secara simultan, mulai dari ekspansi jaringan hingga penguatan layanan diagnostik spesialis.
“Prodia akan melanjutkan perluasan jejaring layanan, termasuk pengembangan specialty clinic di berbagai kota untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan diagnostik yang lebih komprehensif,” jelasnya.
Selain ekspansi, PRDA juga akan memperkuat layanan diagnostik bernilai tinggi, khususnya pemeriksaan esoterik dan pengembangan tes laboratorium berbasis precision medicine.
Di sisi lain, digitalisasi tetap menjadi fokus utama. Perseroan akan mengembangkan ekosistem layanan kesehatan terintegrasi untuk meningkatkan pengalaman pelanggan sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Prodia juga membuka peluang kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, termasuk rumah sakit dan perusahaan asuransi, guna meningkatkan volume pemeriksaan dan utilisasi layanan.
"Seluruh langkah tersebut akan diiringi dengan upaya efisiensi biaya yang lebih ketat guna menjaga profitabilitas," imbuhnya.
Dalam jangka menengah, manajemen melihat prospek bisnis diagnostik di Indonesia masih sangat menjanjikan dalam tiga hingga lima2 tahun ke depan.
Hal ini didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap preventive healthcare, pertumbuhan kasus penyakit kronis, serta adopsi teknologi digital di sektor kesehatan.
Selain itu, perkembangan teknologi seperti genomics testing dan molecular testing membuka peluang layanan diagnostik yang lebih personal dan presisi.
Untuk menangkap peluang tersebut, PRDA juga memperkuat investasi di bidang terapi regeneratif melalui PT Prodia Stemcell Indonesia (ProSTEM), sebagai bagian dari strategi jangka panjang di sektor stem cell.
"Dengan berbagai inisiatif tersebut, Prodia optimistis dapat memperkuat posisinya dalam pengembangan layanan berbasis precision medicine sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di tengah persaingan industri yang semakin ketat," tutupnya.
Baca Juga: Demam Dracin di Masyarakat, iQIYI Tembus Empat Besar Over The Top di Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












