Reporter: Juwita Aldiani | Editor: Dikky Setiawan
JAKARTA. PT Central Omega Resources Tbk masih harus bersabar mengantongi pendapatan. Sepanjang tahun ini, fokus perusahaan tersebut menyelesaikan pembangunan pembangunan pabrik pemurnian atawa smelter nickel pig iron (NPI) tahap I.
Setelah mengelar ground breaking alias penanaman tiang pancang pada awal tahun 2015 lalu, manajemen Central Omega mengaku proyek smelter di Desa Ganda Ganda, Morowali Utara, Sulawesi Tengah mencapai 55% dari keseluruhan target pembangunan. Informasi saja, perusahaan itu membangun smelter melalui anak perusahaan bernama PT COR Industri Indonesia.
Direktur Utama PT COR Industri Indonesia Ciho Darmawan Bangun menjelaskan, proses pembangunan saat ini dalam tahap pemasangan instalasi. "Lalu di kuartal akhir tahun ini dilanjutkan dengan commisioning," terang Ciho saat acara paparan publik di Jakarta, Rabu (2/03).
Selanjutnya, mengacu pada pada jadwal pembangunan, mestinya proyek smelter masuk tahap uji produksi pada kuartal I-2017. Pada uji produksi nanti, Central Omega menargetkan produksi sebanyak 72.500 ton NPI.
Sejatinya total kapasitas smelter yakni 100.000 ton per tahun. Central Omega memang tak bermaksud menggunakan kapasitas produksi hingga 100%. Rencana perusahaan berkode DKFT di Bursa Efek Indonesia itu, volume produksi maksimal sebanyak 92.700 ton per tahun saja.
Meskipun smelter masih dalam proses pembangunan, Central Omega punya harapan mengekspor NPI olahan tadi. Negara incaran mereka adalah China. "Karena mereka adalah konsumen terbesar nikel di dunia," alasan Ciho.
Tak berhenti pada sasaran pasar, Central Omega sudah menyusun proyeksi harga jual. Informasi saja, kelak produk NPI perusahaan itu akan mengandung 8%-10% nikel. Dengan asumsi harga jual sekitar US$ 880 per ton, mereka memprediksi bisa mengantongi penjualan US$ 63,8 juta pada tahun 2017.
Jika target pengoperasian smelter tahap I bisa terealisasi, Central Omega akan mengantongi pendapatan perdana, mereka setelah tak mengantongi pendapatan sepeser pun sejak tahun 2014. Mengingatkan saja, aturan larangan ekspor mineral mentah oleh pemerintah, membikin perusahaan itu mati kutu.
Maka dari itu, Central Omega banting setir membangun smelter. Asal tahu saja, proyek tersebut menelan dana sekitar US$ 90 juta.
Central Omega memenuhi kebutuhan biaya investasi dari pinjaman perbankan, yakni dari Bank Panin dan Exim Bank. Dana tersebut menjadi bagian dari dana belanja modal alias capital expenditure tahun ini. "Awal tahun ini kami sudah menggunakan sekitar US$ 60 juta untuk membangun smelter," beber Ciho.
Sembari merampungkan pembangunan smelter tahap I, Central Omega menyiapkan pembangunan tahap II dan tahap III. Masing-masing mereka targetkan rampung tahun 2018 dan 2019. Kelak saat semua tahap pembangunan smelter rampung, Central Omega bisa memproduksi NPI 300.000 ton per tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













