Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Knight Frank Indonesia melaporkan bahwa pasar properti industri di kawasan Greater Jakarta masih menunjukkan ketahanan pada paruh pertama 2026, meski serapan lahan tercatat sedikit terkoreksi dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Permintaan lahan industri saat ini kembali ditopang oleh sektor data center, disusul sejumlah sektor unggulan lainnya seperti manufaktur, makanan dan minuman (F&B), serta industri yang berkaitan dengan kendaraan listrik atau EV-related.
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, mengatakan di tengah dinamika permintaan tersebut, pasokan kawasan industri pada awal 2026 kembali bertambah, terutama dari koridor Timur.
"Ke depan, potensi pasokan baru diperkirakan tidak hanya berasal dari Greater Jakarta, tetapi juga meluas hingga Subang dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah," papar Willson Kalip dikutip dari keterangan resmi yang diterima Kontan, Jumat (22/8/2026).
Baca Juga: Infrastruktur Transportasi Jadi Penopang Pertumbuhan Kawasan Hunian
Pada paruh pertama 2026, serapan lahan industri terutama terkonsentrasi di sejumlah submarket utama, yakni Bekasi, Karawang dan Cilegon.
Bekasi dan Karawang masih menjadi kawasan potensial untuk menyerap permintaan dari sektor data center. Sementara itu, Cilegon mulai menunjukkan perkembangan berbeda dengan munculnya permintaan dari sektor EV-related, selain tetap kuat pada sektor chemical.
Cilegon dinilai memiliki potensi untuk berkembang menjadi klaster industri kendaraan listrik, khususnya untuk segmen commercial EV.
Hal tersebut didukung oleh basis industri berat, ekosistem pelabuhan dan logistik, serta infrastruktur energi yang telah tersedia.
Selain itu, Cilegon berpotensi menjadi alternatif perluasan klaster EV supply yang saat ini masih terkonsentrasi di Jawa Barat, khususnya koridor Timur Greater Jakarta.
Baca Juga: Suryacipta dan UOB Perkuat Promosi FDI untuk Subang Smartpolitan
"Sektor data center yang sejak 2022 menjadi salah satu occupier paling aktif dalam menyerap lahan kembali melakukan akuisisi lahan di koridor Timur pada paruh pertama 2026. Aktivitas tersebut terjadi setelah sempat tertahan pada akhir tahun lalu," tambahnya.
Sementara itu, sektor EV-related juga masih aktif melakukan ekspansi meski tidak lagi menjadi occupier dengan tingkat serapan lahan tertinggi.
Di sisi lain, investor terus melakukan ekspansi di koridor Timur Jakarta untuk memenuhi permintaan terhadap kawasan industri maupun ruang pergudangan modern.
Permintaan pergudangan modern tersebut antara lain berasal dari sektor logistik, e-commerce, elektronik dan sejumlah sektor lainnya.
Berdasarkan catatan pasar kawasan industri Jabodetabek dan sekitarnya pada paruh pertama 2026, total stok kawasan industri di Greater Jakarta kembali meningkat dari koridor Timur. Saat ini, total stok kawasan industri di Greater Jakarta tercatat sekitar 16.020 hektare.
Seiring tingginya permintaan, harga rata-rata lahan industri juga mengalami kenaikan di sejumlah submarket, terutama di koridor Timur. Adapun total serapan lahan sepanjang paruh pertama 2026 mencapai sekitar 127,5 hektare.
Baca Juga: BEST Raup Rp265 Miliar dari Penjualan Lahan Industri hingga Semester I-2026
Dari koridor Timur, Bekasi, Karawang dan Purwakarta menjadi kawasan dengan tingkat serapan lahan tertinggi. Sementara dari koridor Barat, Cilegon juga mencatat serapan yang patut diperhitungkan pada awal 2026.
Dari sisi sektor, data center menjadi occupier paling aktif pada awal 2026, diikuti oleh F&B, manufaktur, otomotif dan chemical. Willson Kalip mengatakan, submarket industri di Greater Jakarta memiliki keunggulan sebagai aglomerasi kawasan industri untuk pengembangan berbagai jenis industri.
Menurutnya, Greater Jakarta tidak hanya menjadi lokasi bagi industri padat karya, tetapi juga semakin menarik bagi industri berbasis teknologi. Hal tersebut tercermin dari dominasi serapan lahan oleh sektor data center dan EV-related.
“Submarket industri yang ada di wilayah Greater Jakarta merupakan aglomerasi kawasan yang prima untuk pengembangan industri, tidak hanya berbasis padat karya, tetapi juga padat teknologi,” ujar Willson Kalip.
Menurut Willson, perkembangan industri berbasis teknologi tersebut tidak hanya terjadi di koridor Timur Greater Jakarta, tetapi mulai meluas ke koridor Barat.
Dengan perkembangan tersebut, daya saing Greater Jakarta sebagai multi-nodal industrial ecosystem dinilai semakin matang.
Baca Juga: Lewat Sakura Matsuri, Jababeka (KIJA) Perkuat Posisi Kawasan Industri Berbasis Wisata
Kondisi ini diharapkan dapat memperkuat posisi Greater Jakarta sebagai salah satu alternatif lokasi investasi bagi investor regional maupun global.
“Terbukti dengan dominasi serapan lahan untuk sektor data center dan EV-related, yang tidak hanya tumbuh sebagai ekosistem di koridor Timur, tetapi juga mulai masuk ke koridor Barat,” kata Willson.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














