kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -35.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.963   -8,00   -0,04%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

CORE Sebut Investasi Hilir Sawit Perlu Insentif Fiskal dan Nonfiskal


Jumat, 24 Juli 2026 / 13:41 WIB
CORE Sebut Investasi Hilir Sawit Perlu Insentif Fiskal dan Nonfiskal
ILUSTRASI. PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) (Dok/CSRA)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai percepatan hilirisasi kelapa sawit memerlukan dukungan insentif fiskal maupun nonfiskal guna menarik investasi ke sektor hilir. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia, tetapi juga mampu menjadi pusat hilirisasi sawit global.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, Indonesia sebenarnya telah mengembangkan berbagai produk turunan kelapa sawit. Namun, potensi hilirisasi masih jauh lebih besar dibandingkan capaian saat ini sehingga membutuhkan arah kebijakan yang lebih jelas.

"Sejauh ini Indonesia sudah mendorong hilirisasi kelapa sawit. Cuma mungkin hilirisasi belum beragam. Oleh karena itu, perlu ada strategi agar Indonesia bisa menjadi pusat hilirisasi industri sawit global," ujar Faisal di Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan berbagai instrumen pendukung, baik berupa insentif maupun disinsentif fiskal dan nonfiskal, untuk mempercepat investasi di industri hilir. Selain itu, penguatan sektor hulu juga menjadi prasyarat agar pengembangan industri pengolahan sawit dapat berjalan berkelanjutan.

Baca Juga: Gapki: B50 Berpotensi Dongkrak Harga CPO dan TBS Petani

"Kita juga harus memperkuat sektor hulu sawit. Penguatan di sektor hulu ini penting karena tidak mungkin kita membangun industri hilir kalau tidak didukung oleh sektor hulu yang kuat," katanya.

Faisal menilai, percepatan hilirisasi sawit akan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, hingga memperkuat struktur industri nasional.

"Dampak positif hilirisasi sawit tentu banyak sekali mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan income masyarakat," ujarnya.

Upaya mempercepat hilirisasi sawit sendiri selama ini juga didorong oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Lembaga tersebut menjalankan berbagai program, mulai dari pendanaan riset dan inovasi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga promosi dan kemitraan untuk memperkuat industri hilir sawit nasional.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung mengatakan hilirisasi sawit bukan hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memperluas pasar sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.

Baca Juga: Industri Sawit Pastikan Pasokan CPO Aman, Implementasi B50 Mulai Juli 2026 Siap Jalan

Menurutnya, pengembangan industri hilir dapat mendorong Indonesia bertransformasi dari sekadar produsen CPO menjadi produsen berbagai produk bernilai tambah tinggi.

"Dengan hilirisasi sawit, kita bisa berubah dari raja CPO dunia menjadi raja oleokimia, raja biofuel, raja biomaterial, dan raja oleofood global," kata Tungkot.

Ia mencontohkan keberhasilan program mandatori biodiesel yang telah membantu menekan impor solar berbasis fosil. Ke depan, hilirisasi sawit juga dinilai berpotensi menggantikan impor avtur melalui pengembangan sustainable aviation fuel(SAF) maupun mengurangi impor kimia organik melalui pengembangan industri oleokimia.

"Dalam energi, kita mengimpor bensin dan avtur yang sangat besar setiap tahun. Padahal, dari produk hilir sawit bisa dihasilkan bensin sawit dan avtur sawit atau SAF untuk mengganti impor energi fosil tersebut," ujarnya.

Tungkot menambahkan, kapasitas produksi oleokimia Indonesia saat ini telah mencapai 19,93 juta ton per tahun. Menurutnya, kapasitas tersebut dapat menjadi modal untuk memperluas hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing industri sawit nasional di pasar global.

Baca Juga: Pelaku Industri Sawit Tunggu Kejelasan Skema DSI untuk Ekspor SDA Mulai 2027

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×