kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

Dampak Konflik Rusia-Ukraina ke Pupuk Indonesia Disebut Bergantung pada Jenis Pupuk


Rabu, 26 Agustus 2026 / 17:58 WIB
Dampak Konflik Rusia-Ukraina ke Pupuk Indonesia Disebut Bergantung pada Jenis Pupuk
ILUSTRASI. PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat fondasi bisnisnya di tengah tekanan rantai pasok pupuk (Pupuk Indonesia/dok)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi konflik Rusia-Ukraina berpotensi memengaruhi perdagangan pupuk Indonesia, mengingat peran Rusia sebagai salah satu eksportir pupuk terbesar.

Pengamat pertanian sekaligus peneliti Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian menjelaskan, memanasnya konflik Rusia-Ukraina di tahun ini terutama serangan ke kilang, pelabuhan Laut Hitam, dan jalur Azov, memang berpotensi mengganggu perdagangan pupuk global.

Namun begitu, dampaknya terhadap pupuk Indonesia dinilai tidak linear serta tidak berdampak sama pada setiap jenis pupuk. Hal ini mengingat setiap jenis pupuk memiliki sumber bahan baku yang berbeda.

Ia mencontohkan, urea Indonesia relatif aman karena produksinya berbasis gas dalam negeri, bahkan kapasitasnya masih berlebih untuk ekspor.

"Kerentanan utama justru ada pada pupuk berbasis kalium, sebagian jenis fosfat, dan belerang. Rusia dan Belarus menguasai sekitar sepertiga nilai impor pupuk Indonesia," katanya kepada Kontan, Selasa (25/8/2026) malam.

Baca Juga: Konflik Rusia-Ukraina Masih Memanas, Pupuk Indonesia Siapkan Strategi Jaga Pasokan

Dengan begitu, lanjut Eliza, ancaman terhadap ketahanan pangan dalam jangka pendek lebih mungkin datang dari kenaikan harga pangan global dibandingkan dari kelangkaan urea di sawah dalam negeri.

Lagipula, menurutnya, Rusia saat ini tetap menjadi salah satu eksportir pupuk terbesar dunia dengan volume sekitar 45 juta ton per tahun atau sekitar 19% dari perdagangan global. Sementara, Ukraina disebut bukan lagi pemain besar dalam perdagangan pupuk.

"Shock harga nitrogen sebelumnya pun lebih banyak disebabkan oleh gangguan di Selat Hormuz dan pembatasan ekspor Tiongkok, bukan semata-mata karena eskalasi Ukraina," jelas Eliza.

Jika eskalasi konflik Rusia-Ukraina memberikan efek kenaikan harga, ia menilai yang paling berpotensi tertekan adalah komoditas perkebunan dan hortikultura yang banyak menggunakan pupuk non-subsidi.

Baca Juga: Pupuk Indonesia Perkuat Command Center, Distribusi Pupuk Subsidi Dipantau Real-Time

"Kalau harga kalium dan NPK nonsubsidi bertahan tinggi, pekebun berpotensi menurunkan dosis pemupukan. Sementara itu, petani hortikultura yang tidak mendapatkan pupuk subsidi bisa menyesuaikan luas tanam karena biaya produksinya meningkat," ujar Eliza.

Maka, ia menegaskan dampak akhirnya bukan hanya pada biaya produksi tetapi juga pada produktivitas. Di mana, jika dosis pupuk dikurangi, produktivitas pun berpotensi turun.

Potensi dampak tekanan biaya produksi juga tak akan merata dirasakan seluruh petani. Untuk petani pangan, Eliza bilang sebagian dampak masih diredam oleh Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang sudah dipotong sekitar 20% sejak Oktober 2025.

Akan tetapi, petani nonsubsidi, terutama pekebun dan petani hortikultura komersial yang tidak masuk penerima pupuk subsidi, perlu lebih berat menanggung harga pasar.

Di sisi lain, Eliza mengungkap industri NPK juga bisa mengurangi utilisasi produksinya jika harga bahan baku seperti belerang dan fosfat terlalu mahal.

"Yang berpotensi paling tertekan adalah petani perkebunan yang membeli pupuk nonsubsidi, serta industri NPK yang masih harus mengimpor kalium, fosfat, dan belerang," imbuhnya.

Baca Juga: Laba Pupuk Indonesia Melonjak 253% di Semester I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×