Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dampak kekeringan yang dipicu fenomena El Nino mulai dirasakan petani kelapa sawit. Produksi tandan buah segar (TBS) di tingkat petani dilaporkan turun hingga 15%-20% dari kondisi normal, bahkan berpotensi mengalami penurunan lebih dalam pada tahun depan.
Ketua Umum Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Mansuetus Darto menjelaskan, penurunan produksi TBS saat ini sudah terjadi di sejumlah wilayah perkebunan sawit.
"(Penurunan produksi dari) sebelumnya 1,2 ton per bulan per hektare menjadi 900 kilogram (kg) per bulan. Beberapa petani bahkan hingga 700 kg per bulan," katanya kepada Kontan, Rabu (26/8/2026).
Menurut Darto, penurunan produksi sebesar 15%-20% saat ini berpotensi semakin parah pada 2027. Ia memperkirakan produksi sawit petani dapat merosot hingga 50% jika dampak El Nino berlanjut.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu ketersediaan bahan baku minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), termasuk untuk memenuhi kebutuhan program mandatori biodiesel 50% atau B50.
Darto mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi risiko berkurangnya pasokan CPO dengan mengevaluasi kebijakan B50. Menurutnya, penyesuaian kebijakan diperlukan agar pelaku usaha tidak menjadi pihak yang disalahkan ketika terjadi kekurangan pasokan.
"Karena itu, pemerintah perlu mengubah kebijakan B50 agar ke depannya pelaku usaha tidak di kambinghitamkan. Ini juga akibat tata kelola perkebunan Agrinas yang produksinya tidak sesuai dengan yang diharapkan," lanjut Darto.
Baca Juga: Produksi CPO Terancam Turun 5 Juta Ton akibat El Nino, Program B50 Jadi Sorotan
Selain faktor El Nino, penurunan produksi sawit juga diperparah oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Asap akibat karhutla dapat menghambat aktivitas petani, mulai dari proses pemanenan hingga kegiatan perawatan tanaman.
POPSI menilai kondisi tersebut membutuhkan respons pemerintah, terutama dalam memberikan kepastian hukum dan perlindungan kepada petani sawit yang terdampak kondisi cuaca ekstrem.
Di sisi lain, Darto mendorong pemerintah untuk kembali mengkaji implementasi B50. Ia mengusulkan agar mandatori biodiesel tersebut untuk sementara diturunkan menjadi B30 atau B40 guna menyesuaikan dengan kondisi pasokan CPO.
"El Nino meciptakan krisis pangan, ditambah peningkatan kebutuhan biodiesel yang mendorong ekspansi lahan sawit dapat menggerus lahan pertanian," tegas Darto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














