kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Data masyarakat bocor, robot-robot ini agresif melakukan registrasi


Rabu, 14 Maret 2018 / 16:53 WIB
ILUSTRASI. Penjualan nomor ponsel prabayar


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Anda masih ingat, ada pelanggan Indosat Ooredoo yang memposting Twitter, nomor induk kependudukan (NIK) dipakai oleh lebih dari 50 nomor? Itu belum seberapa. Dalam sebuah dokumen tentang perkembangan registrasi kartu prabayar yang Kontan.co.id peroleh, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri mendeteksi adanya NIK yang sama bisa untuk registrasi hingga puluhan ribu kali dalam sehari.

Ditjen Dukcapil mengindikasikan, terjadi registrasi pelanggan jasa telekomunikasi dengan memakai mesin atau robot. "Indikasi tersebut diperkuat dengan bisa dilakukan request satu NIK sebanyak 11 kali  dalam satu detik," demikian bunyi dokumen yang Kontan.co.id terima awal pekan ini tersebut. 

Sumber Kontan.co.id membenarkan, ada robot alias mesin yang bisa secepat kilat melakukan registrasi. "Mesin ini bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp 30 juta serta mampu memasukkan data NIK serta kartu keluarga (KK) plus nomor operator sebanyak 32 kali dalam waktu satu menit. Tak cuma itu, robot tersebut mampu menjadikan registrasi menjadi customer base operator," bisiknya. Maksud menjadi customer  base adalah, setelah registrasi, mesin tersebut ternyata bisa mengirimkan satu SMS atau akses data 0,1 kilobyte. Ini syarat sebuah nomor sah dihitung menjadi pelanggan operator, bukan sekadar teregistrasi.     

Atas indikasi aksi robot-robot tersebut, Ditjen Dukcapil merasa keberatan. Menurut Ditjen Dukcapil, request yang terlalu besar dalam waktu bersamaan dengan mesin atau robot mengganggu akses lembaga pengguna lain. Di dokumen itu, Ditjen Dukcapil menampilkan screenshot operator telekomunikasi yang diduga menggunakan robot atau mesin. Siapa operator itu? Dan mengapa jumlah pelanggan menjadi segalanya di industri telekomunikasi, akan dibahas di artikel selanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×