Reporter: Vina Elvira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten perhotelan, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) memasang target pertumbuhan kinerja moderat pada tahun 2026. Proyeksi ini seiring dengan tekanan kenaikan harga tiket pesawat akibat mahalnya avtur dan fuel surcharge yang dapat memicu penurunan tingkat okupansi kamar hotel.
Sekretaris Perusahaan DFAM, Soviadi Nor Rachman, menyampaikan bahwa secara keseluruhan outlook industri perhotelan tahun ini masih tergolong optimistis, meski dengan pendekatan yang lebih hati-hati.
“Secara keseluruhan, outlook bisnis perhotelan 2026 bisa dibilang masih optimistis, tetapi lebih hati-hati, belum masuk fase revisi besar, namun ekspektasi sudah mulai diturunkan ke level yang lebih realistis,” ujar Soviadi kepada Kontan.co.id, Jumat (10/4/2026).
DFAM menargetkan tingkat okupansi hotel berada di kisaran 65%–70% pada 2026. Sementara itu, target pencapaian pendapatan dipatok di level 70%–75% dengan proyeksi laba kotor sekitar 35%–40%.
Baca Juga: Mitra Keluarga (MIKA) Siapkan Capex Rp 900 M - Rp 1 T guna Ekspansi Rumah Sakit 2026
Dia melanjutkan, kenaikan harga tiket pesawat sudah mulai memberikan dampak terhadap industri perhotelan, meskipun belum terlalu dalam. Soviadi menyebut, okupansi hotel sejauh ini relatif stabil dengan sedikit penurunan di beberapa destinasi.
Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk menyesuaikan strategi, baik dari sisi pasar maupun operasional. DFAM, misalnya, menggeser fokus ke segmen yang lebih tahan terhadap kenaikan harga tiket.
Selain itu, perseroan juga mengoptimalkan segmen non-leisure seperti corporate account, project-based stay, dan MICE, yang dinilai lebih stabil di tengah kondisi ini.
Dari sisi pricing, DFAM menerapkan strategi yang lebih fleksibel guna menjaga keseimbangan antara okupansi dan margin.
“Strategi pricing secara dynamic untuk Online Travel Agent dan beberapa promo kamar yang bundling dengan F&B,” ujarnya.
Untuk menjaga kinerja tetap resilien, DFAM juga menyiapkan sejumlah langkah mitigasi apabila tekanan dari mahalnya tiket pesawat berlanjut lebih panjang. Langkah mitigasi utama yang disiapkan antara lain memperkuat pasar lokal dan drive market, mengoptimalkan segmen non-leisure, menerapkan pricing yang adaptif, serta meningkatkan efisiensi operasional.
Sejalan dengan kondisi saat ini, DFAM memilih untuk lebih selektif dalam eksekusi rencana ekspansi tahun ini dengan memprioritaskan optimalisasi aset yang sudah ada.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













