kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Duh! Jurnalisme digempur media sosial


Kamis, 12 Juli 2012 / 11:34 WIB
Duh! Jurnalisme digempur media sosial
ILUSTRASI. Residents line up for nucleic acid testing at a residential community following new cases of the coronavirus disease (COVID-19) in Shenhe district of Shenyang, Liaoning province, China May 18, 2021. Picture taken May 18, 2021. China Daily via REUTERS


Reporter: Nur Ramdhansyah A | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Dunia jurnalisme saat ini menghadapi dilema di tengah derasnya kemajuan media jejaring sosial. Betapa tidak, media sosial terus mengalihkan perhatian publik. Sehingga, masyarakat Indonesia mulai gemar mengakses media sosial daripada media produk jurnalisme.

Hal ini disampaikan oleh Ahmad Kusnaeni, Wakil Pemimpin Redaksi Lembaga Kantor Berita ANTARA saat seminar di acara ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis (12/7).

Ahmad bilang, masyarakat Indonesia lebih gemar memanfaatkan internet untuk mengakses situs media sosial. "Sebanyak dua per tiga pengguna internet mengunjungi sosial media dan melupakan media tradisional," katanya dalam seminar bertajuk Media Literasi Pada Era Digital, Kontradiksi Antara Jurnalisme dan Media Sosial di hotel Pullman.

Di dalam penjelasannya, Ahmad mengungkapkan, sebanyak 5 miliar menit masyarakat Indonesia menghabiskan waktu mengakses situs Facebook, ketimbang membaca media jurnalisme. "Jadi media tradisional saat ini hampir bisa dikatakan tidak laku lagi. Masyarakat lebih suka menghabiskan waktu di depan internet dengan membuka Facebook," terangnya.

Tak hanya itu, produk jurnalisme berbasis televisi juga terkalahkan dengan kehadiran media sosial tersebut. Masyarakat Indonesia mulai gemar menatap video di Youtube ketimbang melihat berita televisi. "Ada sebanyak seratus juta video yang diakses setiap harinya," ungkap Ahmad.

Fenomena itu, menurut Ahmad perlu ada pengawasan dan aturan. Apalagi, banyak media sosial digunakan sebagai ajang berbicara dan menyebarluaskan informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya. "Media sosial berbeda dengan berita. Media sosial lebih kepada voice yang berisikan informasi pendapat bahkan bisa mengarah kepada fitnah dan pembunuhan karakter," jelas Ahmad.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×