Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja ekspor industri kelapa sawit nasional mengalami tekanan pada Maret 2026. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat total ekspor produk sawit turun 34,25% secara bulanan menjadi 2,168 juta ton dibanding Februari 2026 sebesar 3,297 juta ton.
Penurunan ekspor terutama terjadi pada crude palm oil (CPO), olahan minyak sawit, dan olahan minyak inti sawit. Ekspor CPO anjlok 75,61% menjadi 96.000 ton dari sebelumnya 395.000 ton. Sementara ekspor olahan minyak sawit turun 33,57% menjadi 1,506 juta ton dan olahan minyak inti sawit turun 44,67% menjadi 94.000 ton.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, penurunan ekspor bukan semata dipicu melemahnya permintaan global, melainkan dampak kenaikan biaya logistik akibat situasi geopolitik global.
“Akibat perang biaya angkutan dan asuransi naik sampai 50%, ini menyebabkan ekspor turun,” ujar Eddy kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).
Menurut dia, lonjakan ongkos pengiriman dan premi asuransi membuat biaya ekspor membengkak sehingga menekan daya saing produk sawit Indonesia di pasar global.
Baca Juga: Pelaku Industri Sawit Tunggu Kejelasan Skema DSI untuk Ekspor SDA Mulai 2027
Data GAPKI menunjukkan, penurunan ekspor pada Maret terjadi ke sejumlah negara tujuan utama seperti China turun 314.000 ton, India turun 291.000 ton, Pakistan turun 113.000 ton, Bangladesh turun 90.000 ton, serta kawasan Afrika turun 81.000 ton.
Penurunan juga terjadi ke kawasan Timur Tengah sebesar 77.000 ton, Malaysia 71.000 ton, United States 41.000 ton dan European Union 25.000 ton.
Meski demikian, secara kumulatif Januari–Maret 2026, ekspor produk sawit Indonesia masih tumbuh 11,91% secara tahunan menjadi 8,546 juta ton dibanding periode sama tahun lalu sebesar 7,637 juta ton.
Nilai ekspor sawit nasional juga meningkat 10,40% menjadi US$ 9,66 miliar. Kenaikan tersebut ditopang oleh harga rata-rata CPO global yang mencapai US$ 1.356 per ton CIF Rotterdam pada Januari–Maret 2026, lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu sebesar US$ 1.230 per ton.
Dari sisi produksi, GAPKI mencatat produksi CPO pada Maret 2026 turun 12,22% menjadi 4,403 juta ton dari bulan sebelumnya sebesar 5,015 juta ton. Produksi palm kernel oil (PKO) juga turun menjadi 418.000 ton dari 485.000 ton.
Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Maret 2026 mencapai 4,821 juta ton atau turun 12,35% dibanding Februari 2026.
Baca Juga: Investor China Sebut IKN Masih Menarik untuk Ekspansi Bisnis
Sementara konsumsi domestik juga melemah 8,25% menjadi 2,115 juta ton. Penurunan terjadi pada konsumsi pangan, biodiesel, dan oleokimia.
Meski ekspor dan konsumsi turun, stok akhir sawit nasional justru meningkat menjadi 2,568 juta ton pada akhir Maret 2026, lebih tinggi dibanding stok akhir Februari sebesar 2,026 juta ton.
Terkait rencana keterlibatan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam ekspor sawit, Eddy bilang hingga kini belum ada sosialisasi rinci mengenai mekanisme pelaksanaannya.
“Seharusnya sampai Desember yang melaksanakan ekspor tetap perusahaan atau eksportir, jadi masih tidak ada masalah. Untuk Januari full oleh DSI, ini belum ada sosialisasi detailnya,” katanya.
Ia menambahkan, pelaku industri masih menunggu kejelasan tahapan implementasi kebijakan tersebut, termasuk skema transisi mulai Juni hingga Desember 2026 sebelum ekspor CPO sepenuhnya dikelola DSI pada 2027.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













